h1

SINYAL YANG DIBERIKAN OLEH EMITEN

June 3, 2010

Allen dan Faulhaber (1989) mengasumsikan bahwa perusahaan memiliki informasi tentang kualitas proyek investasi yang dimiliki, sedangkan investor tidak memiliki informasi tersebut. Perusahaan yang memiliki proyek-proyek investasi yang bagus akan manarik perhatian investor tentang kualitas investasi tersebut dengan menetapkan harga saham yang rendah, keadaan ini tidak dapat dilakukan oleh perusahaan yang tidak memiliki proyek investasi yang kurang / tidak bagus. Jika harga saham di pasar sekunder naik, maka diharapkan emiten dapat menikmati harga saham yang tinggi pada saat melakukan penawaran saham berikutnya (seasoned equity offering). Model ini merupakan formalisasi dari ide Ibottson (1975) di mana IPO ditetapkan underpriced dengan tujuan mendapatkan harga saham yang lebih baik pada penawaran yang lain. (leave a good taste hypothesis). Implikasi model ini, emiten hanya akan menjual saham yang relatif kecil pada saat IPO dan secara bertahap akan menambahnya pada secondary offering. Model ini konsisten dengan temuan Ibottson dan Jaffe (1975) dan Ritter (1984) yang melihat konsentrasi IPO pada waktu tertentu dan pada industri tertentu (hot issue market). Tingkat laba dari suatu industri akan membentuk keseimbangan dalam industri tersebut, jika industri tersebut memiliki prospek yang bagus maka perusahaan akan memperlihatkan kualitasnya dengan underpricing Allen F. And Faulhaber, G, 1989, “Signaling by Underpricing in The Offering Market”, Journal of Financial Economics”, 23.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: