h1

TUGAS TERSTRUKTUR TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA KULIAH AKUNTANSI POKOK BAHASAN JURNAL PENYESUAIAN MAHASISWA SEMESTER I JURUSAN AKUNTANSI

September 10, 2009

Konsep Belajar dan Prestasi Belajar
Belajar merupakan proses internal komplek. Hal ini karena melibatkan seluruh aspek mental, yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam proses belajar, dosen dapat mengamati secara langsung proses internal mahasiswa. Proses belajar tersebut merupakan respon mahasiswa terhadap tindakan belajar dan mengajar dari dosen (Dimyati dan Mudjiono, 2002:18).
Prestasi merupakan hasil yang dicapai seseorang ketika mengerjakan tugas atau kegiatan tertentu Prestasi akademik adalah hasil belajar yang diperoleh dari kegiatan pembelajaran di sekolah atau di perguruan tinggi yang bersifat kognitif dan biasanya ditentukan melalui pengukuran dan penilaian. Sementara prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata kuliah, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka yang diberikan oleh dosen (Tulus, 2004:74).
Prestasi belajar mahasiswa dipengaruhi oleh banyak faktor baik yang berasal dari faktor intern maupun faktor ekstern mahasiswa. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu. Faktor intern meliputi: (a) faktor jasmaniah, (b) faktor psikologis, dan (c) faktor kelelahan. Sedangkan faktor ekstern meliputi: (a) faktor keluarga, (b) faktor sekolah/lembaga pendidikan, dan (c) faktor masyarakat (Slameto, 2003:54). Metode pembelajaran yang diterapkan oleh dosen merupakan salah satu faktor ekstern yang ikut berpengaruh terhadap prestasi belajar.
Metode Problem Posing, Tugas Terstruktur dan Konvensional
Pembelajaran secara umum adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh dosen sedemikaian rupa sehingga tingkah laku mahasiswa berubah ke arah yang lebih baik. Dalam pelaksanaan strategi belajar mengajar dibutuhkan teknik yang disebut metode mengajar. Metode adalah cara atau teknik yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan, sedangkan pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh dosen sedemikian rupa sehingga tingkah laku mahasiswa berubah ke arah yang lebih baik (Max, 2000:24). Jadi metode pembelajaran adalah merupakan suatu teknik atau cara yang digunakan oleh dosen sedemikian rupa sehingga tingkah laku mahasiswa berubah ke arah yang lebih baik sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Problem Posing merupakan suatu model pembelajaran yang mewajibkan para mahasiswa untuk mengajukan soal sendiri melalui belajar soal (berlatih soal) secara mandiri. Model Pembelajaran Problem Posing mulai dikembangkan di tahun 1997 oleh Lyn D. English (dalam Amin, 2004:31), dan awal mulanya diterapkan dalam mata pelajaran matematika. Selanjutnya, model ini dikembangkan pula pada disiplin ilmu yang lain.
Dalam menggunakan metode Problem Posing dosen dapat memulai perkuliahan dengan menjelaskan materi kepada mahasiswa dan dilanjutkan dosen memberikan latihan soal-soal secukupnya kepada mahasiswa. Setelah melakukan pembahasan soal yang diberikan oleh dosen, mahasiswa diminta untuk mengajukan soal yang menantang dan mahasiswa yang bersangkutan harus mampu menyelesaikannya. Selanjutnya, secara acak dosen mempersilakan mahasiswa untuk menyajikan soal temuannya di depan kelas.
Langkah-langkah pembelajaran akuntansi dengan menggunakan pendekatan Problem Posing yaitu: (1) memahami soal, (2) merencanakan langkah penyelesaian soal, dan (3) menyelesaikan soal tersebut. Dengan demikian kekuatan-kekuatan yang terdapat dalam metode Problem Posing adalah sebagai berikut
a. Memberi penguatan terhadap konsep yang diterima dan memperkaya konsep-konsep dasar melalui belajar mandiri.
b. Diharapkan mampu melatih mahasiswa dalam meningkatkan kemampuan dalam belajar mandiri.
c. Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah.
Metode pembelajaran yang tidak terpisahkan dari Problem Posing adalah tugas terstruktur. Metode ini dapat diartikan suatu model pembelajaran dimana dosen dapat menyuruh mahasiswa untuk mempelajari lebih dahulu topik yang akan dibahas, menyuruh mencari bukti dari teorema yang harus dipecahkan sendiri maupun berkelompok kemudian hasilnya didiskusikan dengan dosen (Erman, 1993:262). Dengan metode Tugas Terstruktur dosen harus memperhatikan individu mahasiswa baik dari segi intelegensi maupun kemampuan kerja. Dalam kondisi semacam ini dosen harus selalu siap menampung keluhan dan kesulitan mahasiswa yang ditemukan pada saat penyelesaian tugas. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan tugas terstruktur adalah tugas yang diberikan oleh dosen pada mahasiswa, yaitu membaca materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya dan mengerjakan soal yang berkaitan dengan materi tersebut.
Metode konvensional merupakan motode pembelajaran yang biasa dilaksanakan dan disukai oleh dosen dalam proses pembelajaran sehari-hari, karena paling mudah cara mengatur kelas. Menurut Wina (2005:115) dalam model pembelajaran konvensional mahasiswa ditempatkan sebagai objek belajar yang berperan sebagai penerima informasi secara pasif dan mahasiswa lebih banyak belajar secara individual dengan menerima, mencatat, dan menghafal materi. Metode konvensional lebih menekankan pada metode ceramah, metode ceramah adalah penuturan bahan perkuliaha secara lisan (Nana, 2005:77).

Jurnal Penyesuaian
Jurnal penyesuaian merupakan bagian dari siklus akuntansi yang memuat semua jurnal yang digunakan untuk menyesuaikan posisi masing-masing akun sehingga sesuai dengan posisinya pada tanggal laporan. (Sofyan, 2004:22). Jurnal penyesuaian adalah jurnal yang bertujuan untuk memperbaiki akun buku besar pada akhir periode. Tujuan dari jurnal penyesuaian adalah: (a) Agar setiap akun riil, khususnya akun aktiva dan akun-akun utang, menunjukkan jumlah yang sebenarnya pada akhir periode; dan (b) Agar setiap akun nominal (akun pendapatan dan akun beban) menunjukan pendapatan dan biaya yang seharusnya diakui dalam satu periode.

Kerangka Berfikir
Pembelajaran dengan metode problem posing cenderung lebih menekankan pada keaktifan mahasiswa dalam pembelajaran, karena pada perkuliahan akuntansi khususnya jurnal penyesuaian mahasiswa dituntut aktif untuk berlatih menyelesaikan permasalahan (soal) dengan menggunakan bahasa dan ide mereka sendiri. Melalui bahasa dan ide mereka sendiri mahasiswa akan menyusun soal yang sesuai dengan kemampuannya. Secara sedikit demi sedikit akan berkembang dan dengan banyaknya latihan, maka mahasiswa akan lebih mudah dalam memahami dan membuat jurnal penyesuaian. Pendekatan pembelajaran dengan menggunakan metode problem posing, yaitu dengan cara menghadapkan mahasiswa atau peserta didik kepada suatu permasalahan dengan maksud agar peserta didik atau mahasiswa menyadari masalah, menelaah masalah dari bermacam-macam segi, merumuskan masalah lalu mencari pemecahan masalah dengan berbagai macam jalan.
Agar proses belajar mencapai hasil yang baik, maka dalam pembelajaran diperlukan adanya kesiapan individu dalam belajar. Kesiapan merupakan keseluruhan kondisi seseorang yang membuatnya siap untuk memberi respon atau jawaban di dalam cara tertentu terhadap suatu situasi (Slameto, 2003:113). Menurut Thorndike (dalam Slameto, 2003:114) bahwa kesiapan adalah prasyarat untuk belajar berikutnya. Dalam pembelajaran akan lebih baiknya jika sebelum materi dijelaskan, terlebih dahulu materi tersebut dipelajari. Karena mahasiswa akan lebih siap dalam menerima materi.
Pembelajaran akuntansi dengan menggunakan metode konvensional umumnya lebih didominasi dengan kegiatan ceramah dan komunikasi lebih cenderung satu arah, sehingga mahasiswa menjadi kurang aktif. Metode ini lebih bersifat monoton dan membosankan bagi mahasiswa. Dalam banyak hal, dengan menggunakan metode konvensional bahkan dosen menghabiskan seluruh waktu perkuliahan untuk memaparkan materi, karena memang tuntutan muatan materi yang perlu disampaikan luas dan mendalam. Kondisi demikian tentu bukan merupakan langkah terbaik, sehingga perlu dicari alternative yang inovatif .
Untuk memahami jurnal penyesuaian diperlukan suatu keterampilan dan ketelitian mahasiswa dalam menganalisis ayat-ayat penyesuaian yang pada akhirnya sangat berpengaruh dalam pembuatan laporan keuangan perusahaan. Dengan implementasi metode Problem Posing dan pemberian tugas terstruktur mahasiswa akan lebih memahami materi jurnal penyesuaian karena mahasiswa dituntut aktif dalam pembelajaran. Dengan pengajuan soal tersebut akan melatih keterampilan dan ketelitian mahasiswa dalam membuat jurnal penyesuaian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: