h1

PENYAMPAIAN INFORMASI KEUANGAN DAN NON KEUANGAN BANK SYARIAH

September 4, 2009

Berdasarkan UU No 10/1998 Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Bank dapat dibagi atas dua jenis yaitu bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat. Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau “berdasarkan prinsip usaha syariah” yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Adapun Bank Perkreditan Rakyat (BPR) adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau “berdasarkan prinsip syariah” yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
2.1. Penghimpunan Dana Bank Syariah
Pada bank syariah, upaya meningkatkan dana dari para nasabah penabung biasa disebut dengan upaya penghimpunan. Penghimpunan dana dari masyarakat yang dilakukan oleh Bank dilakukan dalam bentuk tabungan, deposito dan giro yang secara total biasa disebut dengan dana pihak ketiga. Untuk bank syariah, klasifikasi penghimpunan dana yang utama tidak didasarkan atas nama produk melainkan atas prinsip yang digunakan. Berdasarkan fatwa Dewan Syariah Nasional Prinsip penghimpunan dana yang digunakan dalam bank syariah ada dua yaitu prinsip wadiah dan prinsip mudharabah.
Prinsip wadiah dalam perbankan syariah dapat diterapkan pada kegiatan penghimpunan dana berupa giro dan tabungan. Di Indonesia, hampir semua bank syariah menerapkan prinsip wadiah pada tabungan giro. Giro wadiah adalah titipan pihak ketiga pada bank syariah yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, kartu ATM, sarana perintah pembayaran lainnya atau dengan cara pemindahbukuan.
Penghimpunan dana dengan prinsip mudharabah, dapat dibagi atas dua skema yaitu skema muthlaqah dan skema muqayyadah. Dalam penghimpunan dana dengan prinsip mudharabah muthalaqah, kedudukan bank syariah adalah sebagai mudharib (pihak yang mengelola dana) sedangkan penabung atau deposan adalah pemilik dana (shahibul maal). Hasil usaha yang diperoleh bank selanjutnya dibagi antara bank dengan nasabah pemilik dana sesuai dengan porsi nisbah yang disepakati dimuka. Dalam penghimpunan dana dengan pinsip mudharabah muqayyadah, kedudukan bank hanya sebagai agen saja, karena pemilik dana adalah nasabah pemilik dana mudharabah muqayyadah, sedang pengelola dana adalah nasabah pembiayaan mudharabah muqayyadah. Pembagian hasil usaha dilakukan antara nasabah pemilik dana mudharabah muqayyadah dengan nasabah pembiayaan mudharabah muqayyadah. Bank sebagai agen dalam hal ini menerima fee saja. Pola investasi terikat dapat dilakukan dengan cara chaneling dan executing. Pola chaneling adalah apabila semua risiko ditanggung oleh pemilik dana dan bank sebagai agen tidak menanggung risiko apapun. Pola executing adalah apabila bank sebagai agen juga menanggung risiko. Prinsip mudharabah muthlaqah dapat diterapkan dalam kegiatan usaha bank syariah untuk produk tabungan mudharabah dan deposito mudharabah.
Tabungan mudharabah adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati tetapi tidak dapat ditarik dengan cek atau alat yang dipersamakan dengan itu. Perbedaan tabungan wadiah dan tabungan mudharabah terletak tiga aspek yaitu sifat dana, insentif dan pengembalian dana. Sifat dana pada tabungan wadiah bersifat titipan sedang sifat dana pada tabungan mudharabah bersifat investasi. Insentif pada tabungan wadiah berupa bonus yang tidak disyaratkan dimuka dan bersifat sukarela jika bank hendak memberikannya. Adapun insentif pada tabungan mudharabah adalah berupa bagi hasil yang wajib diberikan oleh bank jika memperoleh pendapatan atau laba pada setiap periode yang disepakati (biasanya 1 bulan) kepada penabung sesuai dengan nisbah yang disepakati. Dalam hal pengembalian dana, tabungan wadiah dijamin akan dikembalikan semua oleh Bank, akan tetapi pada tabungan mudharabah tidak dijamin dikembalikan semua. Tidak dijaminnya pengembalian tabungan mudharabah terkait dengan prinsip mudharabah yang menyatakan bahwa kerugian usaha ditanggung semuanya oleh shahibul maal sepanjang kerugian tidak disebabkan oleh kelalaian mudharib. Beberapa ahli perbankan syariah menambahkan perbedaan tabungan wadiah dengan tabungan mudharabah pada waktu penarikan. Tabungan wadiah dapat dilakukan sewaktu-waktu sedang tabungan mudharabah hanya dapat dilakukan pada periode atau waktu tertentu. Perbedaan ini tidak disepakati oleh semua ulama.
Deposito mudharabah adalah simpanan dana dengan skema pemilik dana (shahibul maal) mempercayakan dananya untuk dikelola bank (mudharib) dengan hasil yang diperoleh dibagi antara pemilik dana dan bank dengan nisbah yang disepakati sejak awal. Dalam transaksi penyimpanan deposito mudharabah, bank wajib memberitahukan kepada pemilik dana mengenai nisbah dan tatacara pemberina keuntungan dan/atau perhitungan distribusi keuntungan serta risiko yang dapat timbul dari deposito tersebut.
Periode penyimpanan dana biasanya didasarkan pada periode bulan. Deposito mudharabah hanya dapat ditarik sesuai dengan waktu yang disepakati. Adapun pembayaran bagi hasil kepada pemilik dana deposito mudharabah dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dilakukan setiap ulang tanggal pembukaan deposito mudharabah atau dilkaukan setiap akhir bulan/awal bulan berikutnya tanpa memperhatikan tanggal pembukaan deposito mudharabah.
2.2. Pelaporan Kinerja Bank Syariah
Hameed (2002) menyatakan bahwa lembaga keuangan syariah perlu menggunakan prinsip full disclosure. Prinsip ini mendorong lembaga seperti Bank Syariah untuk melaporkan secara optimal tidak saja kinerja keuangan melainkan kinerja non keuangan.
2.2.1. Kinerja Keuangan Bank Syariah
Menurut Prastowo (2005) untuk menilai kinerja keuangan suatu perusahaan diperlukan ukuran-ukuran. Salah satu cara untuk mempelajari dan mengukur keadaan keuangan perusahaan adalah dengan analisis rasio keuangan. Bahan untuk mengadakan analisis rasio adalah laporan keuangan yang secara periodik dikeluarkan perusahaan. Laporan keuangan dapat berbentuk neraca, laporan rugi-laba, atau laporan aliran kas.
Penilaian kinerja keuangan bank mengacu pada SK Direksi Bank Indonesia No 30/KEP/DIR tanggal 30 April 1997 tentang Tata Cara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, penilaian ini bertujuan untuk menetapkan apakah bank tersebut dalam keadaan sehat, cukup sehat, kurang sehat atau tidak sehat sehat sehingga Bank Indonesia sebagai pembina dan pengawas bank-bank dapat memberikan arahan atau petunjuk bagaimana bank tersebut harus dijalankan atau bahkan dihentikan kegiatan operasinya. Penilaian tingkat kesehatan bank akan berpengaruh terhadap kemampuan manajemen bank dan loyalitas nasabah terhadap bank yang bersangkutan.
Berbagai hal dapat disertakan pada laporan kinerja bank syariah tersebut. Hal-hal yang dianggap penting untuk dilaporkan adalah mengenai pendapatan dari pembiayaan, pendapatan yang dibagihasilkan, bagi hasil untuk nasabah, bagi hasil untuk bank, ekuivalen rate dari bagi hasil, serta rasio-rasio keuangan seperti, Financing to Deposit Ratio (FDR), Non Performing Financing (NPF), Capital Adequacy Ratio (CAR), Return on Asset (ROA), Return on Equity (ROE), dan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) dan informasi lainnya.
Nasabah Bank syariah, untuk meningkatkan kemampuannya dalam memprediksi kinerja Bank syariah, akan cenderung mengharapkan tersedianya informasi yang lebih banyak, termasuk informasi tentang kegagalan bank syariah dalam kebijakan pembiayaannya. Akan tetapi, Dilain pihak Bank Syariah mengingat adanya prinsip kerahasian dan kehati-hatian Bank, maka dalam menyampaikan informasi kepada publik, akan sangat selektif dalam menyampaikan informasi kepada publik. Kondisi ini memungkinkan terjadinya gap pengharapan dalam hal informasi kinerja keuangan antara nasabah penanbung dengan manajemen bank sebagai penyedia informasi.
2.2.2. Kinerja Non Keuangan Bank Syariah
Informasi lain yang perlu disampaikan dalam laporan kinerja bank syariah adalah informasi yang terkait dengan diluar kinerja keuangan. Informasi tersebut meliputi kesesuaian dengan prinsip syariah, jenis layanan (pembiayaan dan penghimpunan), standar pelayanan pada nasabah, serta informasi tentang bidang dan kualitas pembiayaan yang sedang dilakukan oleh Bank Syariah (Yusoh dan Ismail, 2001).
Kesesuaian Bank Syariah dengan syariah Islam, didasarkan pada kesesuaian Bank syariah dengan fatwa-fatwa yang telah dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional. Saat ini DSN telah mengeluarkan sekitar 50-an fatwa yang terkait dengan penyelenggaraan Bank Syariah. Dalam hal ini setiap bank syariah harus dapat meyakinkan nasabahnya bahwa telah beroperasi sesuai dengan prinsip syariah tersebut. Informasi ini sangat penting mengingat cukup banyak nasabah bank syariah yang berinvestasi atau menabung dengan alasan kesesuaian dengan prinsip syariah. Informasi tentang kinerja bank dalam hal penciptaan sistem operasi yang dapat menjamin kesyariahan operasinya merupakan hal yang perlu disampaikan pada nasabah.
Informasi lain yang cukup penting adalah informasi tentang standar pelayanan nasabah sehingga, nasabah memperoleh perlindungan atas hak-haknya saat berhubungan dengan bank syariah. Informasi tentang bidang dan kualitas pembiayaan yang dilakukan juga menjadi penting mengingat informasi ini dapat memberi gambaran pada nasabah tentang prediksi kesuksesan bank syariah dalam memperoleh keuntungan dimasa depan.
Untuk meningkatkan kemampuannya dalam memprediksi kinerja Bank syariah, nasabah Bank syariah akan cenderung mengharapkan tersedianya informasi yang lebih banyak dari yang Bank syariah bersedia berikan. Dilain pihak Bank Syariah mengingat adanya prinsip kerahasiaan Bank yang menyampaikan informasi kepada publik, akan sangat selektif dalam menyampaikan informasi kepada publik. Kondisi ini memungkinkan terjadinya gap pengharapan antara nasabah penabung dengan manajemen bank sebagai penyedia informasi.
2.3. Kesenjangan Harapan
Ada banyak model yang dapat digunakan untuk menganalisis kesenjangan harapan. Salah satunya adalah gap model yang dikembangkan oleh Parasuraman, yang menyebutkan ada 5 gap yang dapat menyebabkan kegagalan penyampaian jasa (Tjiptono, 2000).
a. Gap antara harapan konsumen dan persepsi manajemen.
b. Gap antara persepsi manajemen terhadap harapan konsumen dan spesifikasi kualitas jasa.
c. Gap antara spesifikasi kualitas jasa dan penyampaian jasa
d. Gap antara penyampaian jasa dan komunikasi eksternal
e. Gap antara jasa yang dirasakan dengan jasa yang diharapkan
Bank syariah merupakan organisasi penyedia jasa. Dalam literatur ekonomi dan perbankan syariah, Bank Syariah lebih tepat dianalogkan sebagai institusi investasi yang memperoleh keuntungan dari hasil investasi yang dilakukan dengan berbagai model transaksi yang sesuai dengan syariah. Dalam hal ini, nasabah sebagai pemilik dana berhak atas proporsi tertentu dari keuntungan yang diperoleh Bank. Jika Bank syariah memperoleh keuntungan yang tinggi, maka nasabah penabung akan memperoleh keuntungan yang tinggi juga, demikian sebaliknya.
Dalam kondisi ini, nasabah memerlukan informasi yang lebih detail untuk dapat memprediksi kemungkinan keuntungannya dimasa depan maupun dalam mengevaluasi keputusan investasinya di Bank Syariah. Informasi tentang kinerja masa lalu merupakan hal yang penting diperoleh nasabah agar dapat melakukan prediksi dan analisis tersebut. Dengan demikian, informasi yang berkualitas merupakan sesuatu yang penting untuk diperoleh nasabah dari pihak bank. Dalam hal ini tingkat kualitas informasi yang disampaikan oleh manajemen sangat mungkin berbeda dengan kualitas informasi yang diharapkan oleh nasabah. Pada situasi ini kesenjangan harapan merupakan hal yang mungkin terjadi pada kasus bank syariah.
2.4. Asimetri Informasi
Irfan (2002) mendefinisikan asimetri informasi adalah suatu kondisi dimana ada ketidakseimbangan perolehan informasi antara pihak manajemen sebagai pihak pemberi informasi dengan pihak pemegang saham dan stake holder yang pada umumnya sebagai pengguna informasi. Scott (1997) menyatakan bahwa terdapat dua tipe asimetri informasi yaitu:
a. Adverse selection adalah para manajer serta orang dalam lainnya biasanya mengetahui lebih banyak informasi dibandingkan investor sebagai pihak luar.
b. Moral hazard adalah kegiatan yang dilakukan oleh seorang manajer tidak seluruhnya diketahui oleh pengguna saham ataupun pemberi pinjaman.
Menurut Welker (1995), Gonedes (1980), Greenstein dan Sami (1994), Lang dan Lundholm (1996) dalam Khomsiyah dan Susanti (2003) menyatakan bahwa pengungkapan (disclosure) mempunyai hubungan negatif dengan asimetri informasi. Berdasarkan pernyataan tersebut, asimetri informasi dapat dikurangi dengan adanya pengungkapan, dengan kata lain kebijakan pengungkapan yang lebih informatif akan mengurangi asimetri informasi Healy dan Palepu (1983) dalam Khomsiyah dan Susanti (2003). Wolk et. al. (2000) menyatakan salah satu cara untuk mengurangi asimetri informasi keuangan dengan memberikan sinyal kepada pihak luar, salah satunya berupa informasi keuangan yang dapat dipercaya dan akan mengurangi ketidakpastian mengenai prospek perusahaan yang akan datang.
Dalam hal tabungan nasabah yang menggunakan akad mudharabah dengan ciri bagi hasil, terdapat hubungan yang asimetri antara bank sebagai pengelola dana (mudharib) dan nasabah sebagai pemilik dana (shahibul maal). Sebagai pengelola dana, bank merupakan pihak yang paling mengetahui proses pengelolaan dan hasil dari pengelolaan dana tersebut. Sementara nasabah baru mengetahui tentang kualitas proses pengelolaan dan hasil pengelolaan dana setelah diberi informasi oleh bank. Dengan demikian untuk mengatasi asimetri informasi tersebut, bank perlu menyajikan informasi sesuai dengan yang diharapkan oleh nasabah sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat terkait dengan dana yang sedang atau akan ditabungkan di bank syariah.

2 comments

  1. Salam kenal, kunjungi blog saya jika mau penghasilan realistis dari internet http://calonorangkaya.blogspot.com/


  2. Saya mau tanya, kuesioner tentang “PENYAMPAIAN INFORMASI KEUANGAN DAN NON KEUANGAN BANK SYARIAH”, ada atau tidak?

    Terima Kasih

    Deddy



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: