h1

COGNITIVE VS PERSONALITY TERHADAP NIAT PENGGUNAAN TEKNOLOGI (INTERNET)

September 3, 2009

The Role of Cognitive Style in Use
Cognitive adalah istilah yang digunakan dalam psikologi kognitif untuk menggambarkan suatu bentuk pikiran atau persepsi dari setiap individu, atau mereka lebih menyukai pendekatan untuk penggunaan seperti informasi dalam menyelesaikan masalah (wikipedia). Salah satu hal yang baru ditahun 1960an adalah mempelajari bagaimana orang berpikir, merasakan, belajar, mengingat, membuat keputusan, dan bagaimana orang memproses (mempersepsikan, menginterpretasikan, menyimpan dan mengambil) data di memori otak.
Psikologi kognitif adalah ilmu pengetahuan ilmiah dari psikologi yang mempelajari konasi, yaitu proses-proses mental yang mendasari perilaku. Psikologi kognitif mempunyai riset domain yang luas termasuk bekerja dengan memori, atensi, persepsi dan representasi pengetahuan, memberi alasan, kreativitas dan pemecahan masalah (Hartono, 2007).
Beberapa teori dan model dari sistem informasi, yang menjelaskan interaksi individu-individu dengan sistem informasi terdiri dari:
1. Teori tindakan beralasan (theory of reasoned action atau TRA) oleh Fishbein dan Ajzen (1975).
2. Teori penerimaan teknologi (technology acceptance model atau TAM) oleh Davis et al. (1989).
3. Teori perilaku perencanaan (theory of planned behavior atau TPB) oleh Ajzen (1991).
Dalam penelitian ini, faktor-faktor cognitive, peneliti menggunakan dasar penelitian yang validitas instrumen tinggi, yang mana didasarkan dari penelitian Davis (1989) yaitu: kegunaan persepsian (perceived usefulnees) dan kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use).
Penelitian ini menggunakan pendekatan model penerimaan teknologi (TAM) dengan beberapa alasan:
1. TAM adalah model perilaku yang bermanfaat untuk menjawab pertanyaan mengapa banyak sistem informasi gagal diterapkan karena pemakainnya tidak mempunyai niat (intention) untuk menggunakannya, tidak banyak model-model penerapan sistem teknologi informasi yang memasukkan faktor psikologis atau perilaku di dalam modelnya dan TAM adalah salah satu pertimbangannya.
2. TAM dibangun dengan dasar teori yang kuat
3. TAM telah diuji dengan banyak penelitian dan hasilnya sebagian besar mendukung dan menyimpulkan bahwa TAM merupakan model yang baik. Bahkan TAM telah banyak diuji dan dibandingkan dengan model yang lain misalnya TRA dan TPB dan hasilnya konsisten bahwa TAM cukup baik.
4. Kelebihan TAM yang paling penting adalah model ini merupakan model yang persimoni yaitu model yang sederhana tapi valid.
Salah satu teori tentang penggunaan sistem teknologi informasi yang dianggap sangat berpengaruh dan umumnya digunakan untuk menjelaskan penerimaan individu terhadap penggunaan sistem teknologi informasi adalah model penerimaan teknologi (theory acceptance model atau TAM). Teori TAM, pertama kali dikenalkan oleh Davis (1986). Teori TAM dikembangkan dari Theory of Reasoned Action atau TRA oleh Ajzen dan Fishbein (1980).
Pengaruh Kegunaan Persepsian (Perceived Usefulnees) Terhadap Niat (Intention) Penggunaan Internet
Kegunaan persepsian adalah sejauh mana seseorang percaya bahwa menggunakan suatu teknologi akan meningkatkan kinerjanya. Dari definisi, diketahui bahwa kegunaan persepsian merupakan suatu kepercayaan tentang proses pengambilan keputusan. Jika seseorang merasa percaya bahwa sistem berguna maka dia akan menggunakannya. Sebaliknya jika seseorang merasa percaya bahwa sistem informasi kurang berguna maka dia tidak akan menggunakannya. Berdasarkan teori motivasi yang diungkapkan oleh Deci (1975) dalam Hartono (2007), penerimaan teknologi oleh pengguna ditentukan oleh dua tipe motivasi yaitu ekstrinsik dan intrinsik. Motivasi intrinsik timbul karena adanya ekspektasi yang dirasakan oleh individu itu sendiri dari hasil berinteraksi dengan sebuah aplikasi sistem teknologi informasi. Motivasi ekstrinsik timbul karena adanya ekspektasi atas penggunaan aplikasi sistem teknologi tertentu yang diterimanya dari luar interaksi individu dengan sistem.
Definisi dari manfaat persepsian menggambarkan bentuk motivasi ekstrinisik, karena manfaat yang diterimanya berasal dari luar yaitu penghargaan karena kinerjanya meningkat.
Penelitian sebelumnya menunjukan bahwa konstruk kegunaan persepsian mempengaruhi secara positif dan signifikan terhadap penggunaan sistem informasi (Davis, 1989; Chau, 1996; Igbaria et al,. 1997; Sun, 2003). Penelitian sebelumnya menunjukan bahwa kegunaan persepsian merupakan konstruk yang paling banyak signifikan dan penting yang mempengaruhi sikap, minat dan perilaku dalam penggunaan teknologi dibanding konstruk yang lain.
Venkantesh et al., (2003) menguji pengaruh faktor kegunaan persepsian terhadap perilaku penggunaan TI antara pria dan wanita. Hasilnya menunjukkan bahwa pengaruh kegunaan persepsian untuk pria lebih kuat dibandingkan dengan wanita. Hal ini menunjukkan bahwa pria menganggap TI lebih bermanfaat dibandingkan dengan wanita, sehingga persepsi ini akan mempengaruhi sikap pria dalam menggunakan TI. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kegunaan persepsian berpengaruh positif terhadap perilaku penggunaan TI meskipun pada pria pengaruh ini ternyata lebih kuat dibandingkan dengan wanita.
Szajna (1996) menguji secara empiris model TAM revisian Davis (1989) dengan menggunakan mahasiswa sebagai responden. Teknologi yang diuji penerimaannya oleh pengguna adalah e-mail. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan instrumen yang sama seperti yang digunakan oleh Davis et al. (1989). Sampel terdiri dari mahasiswa yang 96%-nya tidak memiliki pengalaman dalam menggunakan e-mail. Demonstrasi penggunaan e-mail dilakukan selama satu jam dan selama itu mahasiswa diharuskan mengisi kuesioner yang terdiri dari 12 item untuk kegunaan persepsian dan kemudahan penggunaan persepsian. Setelah lima belas minggu, responden secara bebas menggunakan e-mail untuk melakukan koresponden kepada sesama responden, mahasiswa lain dalam satu universitas, dan kepada mahasiswa yang berbeda universitas. Pada akhir minggu ke lima belas, responden diminta untuk mengisi instrumen yang sama pada awal eksperimen. Instrumen tersebut mengindikasikan tentang niat mereka dalam menggunakan e-mail. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensi mahasiswa dalam menggunakan e-mail lebih banyak selama lima belas minggu akhir dibandingkan pada minggu awal diterapkannya email. Dengan kata lain, dalam waktu lima belas minggu eksperimen, terdapat progress naik penggunaan e-mail oleh responden. Pada tahap pre-implementation ternyata kegunaan persepsian berdampak langsung dan signifikan terhadap intentions to use sedangkan kemudahan penggunaan persepsian tidak signifikan. Selain itu, pada tahap ini juga ditemukan hasil bahwa kemudahan penggunaan persepsian tidak berdampak pada kegunaan persepsian. Pada tahap post-implementations, kegunaan persepsian berdampak langsung dan signifikan terhadap niat untuk menggunakan sedangkan kemudahan penggunaan persepsian tidak memiliki dampak langsung.
Pengaruh Kemudahan Penggunaan Persepsian (Perceived Ease of Use) Terhadap Niat (Intention) Penggunaan Internet
Davis et al. (1989) mendefinisikan kemudahan penggunaan persepsian sebagai tingkat keyakinan seseorang bahwa dalam menggunakan sistem tertentu tidak diperlukan usaha yang keras. Meskipun usaha menurut setiap orang bebeda-beda tetapi pada umumnya untuk menghindari penolakan dari pengguna sistem atas sistem yang dikembangkan, maka sistem harus mudah diaplikasikan oleh pengguna tanpa mengeluarkan usaha yang dianggap memberatkan.
Kemudahan penggunaan persepsian merupakan salah satu faktor dalam model TAM yang telah diuji dalam penelitian Davis et al. (1989). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa faktor ini terbukti dapat menjelaskan alasan seseorang dalam menggunakan sistem informasi dan menjelaskan bahwa sistem baru yang sedang dikembangkan diterima oleh pengguna.
The Role of Personality in IS Use
Personality adalah seperangkat karateristik dan kecenderungan yang stabil yang menentukan orang commonalities dan berbeda dalam pemikiran, perasaan dan tindakan (Maddi, 1989). Karakter personality adalah suatu pola kecenderungan perilaku jangka panjang yang konsisten. Faktor-faktor personality diperkenalkan oleh Goldberg (1990) yang mengklasifikasikan dalam lima tahapan: openess to experience, conscientiousness, extraversion, agreeableness, neuroticism, (OCEAN).
Dari lima tahapan ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Openness to experience ini adalah kecenderungan dalam menggali pengalaman baru serta ide-ide inovatif. Individu yang mempunyai openness to experience dapat didiskripsikan sebagai orang yang kreatif, imajinatif, reflektif dan moderen. Sedang individu openness to experience yang rendah dapat dikarakterkan sebagai orang konvensional, mempunyai ketertarikan yang rendah dan tidak analitis. Keterbukaan seseorang terhadap suatu hal dapat memicu penerimaan sesuatu yang baru pada kehidupan seseorang, maka semakin terbuka orang maka semakin menerima situasi baru. Keterbukaan juga dapat meningkatkan kecakapan seseorang.
2. Conscientiousness ini adalah kecenderungan pada disiplin, tanggung jawab, tugas dalam pencapaian tujuan diri sendiri. Individu yang mempunyai conscientiousness akan cendrung menghindari masalah dan menentukan tingkat kesuksesan yang tinggi melalui rencana dan mempunyai tujuan dan tekun. Mereka cendrung menghargai orang lain dengan kepintaran dan kemampuan yang dimiliki orang tersebut. Sedangkan individu yang mempunyai conscientiousness yang rendah akan mudah menyerah, kurang memiliki ambisi dan mencoba hal yang meberikan kesenangan jangka pendek.
3. Extraversion ini adalah kecenderungan dalam proses simulasi dan menimba manfaat dari orang lain. Extraversion mendiskripsikan keberadaan orang bahwa orang tersebut tegas, dominan, enerjik, aktif, banyak berbicara dan antusias. Individu yang mempunyai extraversion yang tinggi sering disebut dengan extrovert cendrung penuh semangat, suka dengan orang dan kelompok, mencari keramaian dan stimulasi. Sedangkan individu yang mempunyai extraversion rendah sering disebut dengan introvert, yang mana lebih suka menghabiskan waktu dengan menyendiri dan mempunyai karakter yang berkebalikan dengan extrovert, yaitu tenang, hati-hati, dan kurang tergantung dengan dunia sosial. Perbedaan sifat dasar tersebut mempengaruhi sikap seseorang ketika berinteraksi dengan lingkungan. Individu yang memiliki karateristik extrovert cendrung lebih mudah bergaul dengan orang lain dibandingkan orang berkarakter introvert.
4. Agreeableness adalah kecenderungan menerima apa adanya. Individu yang mempunyai agreeablenes yang tinggi mempunyai kecendrungan baik, ramah, murah hati, senang membantu dan mampu untuk menyatukan keinginan dengan orang lain, sedangkan individu yang mempunyai agreeableness rendah akan menempatkan dirinya diatas kepentingan orang lain, mereka umumnya tidak peduli dengan orang lain dan tidak suka melibatkan dirinya dengan orang lain dan cendrung bersikap skeptis terhadap niat orang lain yang meyebabkan mereka cendrung tidak ramah, serta dapat dikaraterkan sebagai manipulatif, orientasi pada diri sendiri, curiga dan kejam.
5. Neuroticism adalah kecenderungan menerima emosi yang tidak menyenangkan secara mudah. Individu yang mempunyai neuroticism tinggi mempunyai pegalaman emosi yang negatif termasuk kecemasan, permusuhan, depresi, kesadaran diri. Individu yang mempunyai neuroticism yang tinggi sangat reaktif secara emosional. Mereka merespon secara emosional kejadian yang tidak berpengaruh pada orang lain dan reaksi yang ditujukan akan cendrung lebih tinggi dari normal. Mereka mengintrepretasi situasi biasa sebagai ancaman, frustasi meskipun ringan. Reaksi emosi negatif tersebut bertahan untuk waktu yang cukup lama dan akan mempengaruhi seseorang dalam memandang suatu kejadian atau tindakan.
Penerimaan personel terhadap sistem komputer berhubungan positif dengan keberhasilan (DeLone, 1988). Penggunaan faktor karateristik manusia yang dihubungkan dengan personality dalam penelitian sistem informasi telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya. McElroy et al. (2007) menggunakan lima dimensi sifat utama openess to experience, conscientiousness, extraversion, agreeableness, neuroticism, (OCEAN) untuk mengetahui pengaruh terhadap penerimaan teknologi dibandingkan dengan faktor cognitive. Alasan McElroy et al. (2007) meggunkan kepribadian untuk mengukur penerimaan teknologi karena kepribadian faktor bawaan manusia yang bersifa tetap dan cendrung lebih stabil dibandingkan dengan faktor cognitive. Ditemukan dukungan pada proposisi yang menyatakan bahwa faktor personality lebih memprediksi penerimaan teknologi.
Dengan mengkaji enam belas artikel dari tahun 1996 sampai tahun 2006, Ramdani (2007) melakukan meta analisis hubungan antara tiga dari lima dimensi sifat utama openess to experience, extraversion, neuroticism, (OEN) dengan penggunaan e-mail sebagai pemilihan teknologi dan mediasi komunikasi. Analisis yang dilakukan Ramdani (2007) menemukan bahwa dimensi openess to experience, extraversion, neuroticism, (OEN) merupakan dimensi yang berhubungan dengan penggunaan teknologi e-mail.
Kajian yang dilakukan Ramdani (2007) menunjukan bahwa faktor kepribadian merupakan faktor yang berpengaruh terhadap penerimaan teknologi. Hal tersebut ditujukan dengan penggunaan faktor kepribadian sebagai faktor yang menentukan penerimaan pada enam belas artikel yang dikaji Ramdani (2007). Penggunaan faktor kepribadian utama secara langsung sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh McElroy (200&7).
Dalam penelitian ini, karakter-karakter personality difokuskan pada, 1) kecemasan komputer (computer anxiety) didasarkan dari penelitian yang dilakukan oleh (Iqbaria et al., 1989), alasan dalam menggunakan kecemasan komputer ini adalah dari hasil penelitian menunjukan bahwa kecemasan komputer berpengaruh langsung terhadap niat (intention) dalam menggunakan teknologi, kecemasan komputer termasuk dalam faktor-faktor personality neuroticism 2) perasaan (affect) didasarkan dari penelitian yang dilakukan oleh Cheung and Chang (2001), alasan dalam menggunakan perasaan (affect) ini adalah dari hasil penelitian menunjukan bahwa perasaan (affect) secara signifikan berpengaruh pada minat dalam penggunaan internet, perasaan (affect) dalam faktor-faktor personality yaitu openness.dan 3) trust, didasarkan dari penelitian yang dilakukan oleh McKnight et al, 2002) alasan dalam menggunakan trust ini adalah dari hasil penelitian menunjukan bahwa trust secara signifikan berpengaruh pada minat dalam penggunaan internet, trust termasuk dalam faktor-faktor personality yaitu agreeableness
Pengaruh Kecemasan Komputer (Computer Anxiety) Terhadap Niat Penggunaan Internet
Thatcher et al. (2007) mengatakan bahwa personality, karakteristik demografi dan aspek individual mempengaruhi keyakinan pemakai dan perilaku pemakai. Terdapat tiga personality traits yang mempengaruhi internet anxiety yaitu: 1). Computer anxiety, 2). Computer self-efficacy, 3). Personal innovativeness dengan teknologi informasi. Computer anxiety didefinisikan sebagai kekuatiran (apprehension) atau takut (fear) berinteraksi dengan komputer, irrespective terhadap bahaya yang riil.
Internet anxiety berhubungan dengan computer anxiety, tetapi konsepnya berbeda. Internet anxiety merupakan perasaan atau emosi yang timbul dari penggunaan teknologi web. Internet menimbulkan anxiety karena memerlukan pemakai (users) untuk memahami teknologi baru dan aplikasi baru yang asing bagi mereka.
Internet menimbulkan emosi karena ini menghasilkan interaksi dengan situasi yang tidak dikenal atau orang yang tidak dikenal. Lebih jauh penggunaan internet menyajikan risiko, seperti potensial untuk virus, spyware atau invasi dari privasi pemakai (user privacy). Oleh karena itu, computer anxiety mencerminkan lamanya waktu (life time) dari pengalaman dengan komputer. Internet anxiety mencerminkan kesulitan dengan teknologi informasi yang melibatkan internet.
Istilah kecemasan digunakan untuk mengambarkan kondisi kekuatiran, keinginan, dan kecemasan yang dimiliki oleh individu. kecemasan komputer adalah tendensi dari individual untuk kuwatir, gelisah, atau cemas untuk menggunakan komputer saat ini atau di masa mendatang (Igbaria et al. 2004). Kecemasan mengenai lingkungan komputer-komputer yang diekspektasikan berhubungan negatif dengan penggunaan komputer. Tidak mengherankan karena orang-orang diharapkan menghindari perilaku yang mencemaskan. Sejumlah penelitian telah menunjukan hubungan antara kecemasan komputer dengan penggunaan komputer (Iqbaria et al. 1989).
Kecemasan komputer ditunjukan sebagai reaksi negatif (Fagan et al. 2003). Reaksi negatif tersebut mempunyai pengaruh terhadap pengunaan dan kepuasan sistem informasi. Banyak penelitian yang menunjukan hubungan antara kecemasan komputer dengan penggunaan teknologi informasi khususnya komputer. Kecemasan komputer menunjukan prediktor yang signifikan dari penerimaan komputer (McElory et al. 2007) dan pengunaan komputer (Howard dan Mendelow, 1991). Studi lain menunjukan hubungan kecemasan komputer dan pengunaan komputer (Compeau dan Higgis, 1995; Igbaria dan Livari, 1995; Igbaria dan Pasuraman, 1989).
Pengaruh Perasaan (Affect) Terhadap Niat (Intention) Terhadap Penggunaan Internet
Triandis (1980) mengembangkan suatu teori yang disebut dengan teori perilaku interpersonal (theory of interpersonal behavior). Teori ini mengusulkan bahwa minat-minat perilaku ditentukan oleh perasaan-perasaan (feeling) yang dimiliki manusia terhadap perilaku (yang disebut dengan affect), apa yang mereka pikirkan tentang seharusnya mereka lakukan.
Triandis (1980) menggunakan istilah perasaan (affect) yang merupakan perasaan-perasaan bahagia, gembira, riang atau senang, atau depresi, jijik, tidak nyaman, atau benci yang dihubungkan dengan seorang individual kesuatu tindakan tertentu. Compeau dan Higgins (1995b); Compeau, et al., (1999) mendefinisikan perasaan adalah suatu kesukaan individual terhadap perilaku. Menurut Goodhue (1988), banyak peneliti yang membedakan antara komponen emosional dari sikap (yang memiliki konotasi suka/tidak suka) dan komponen kognitif atau kepercayaan. Penelitian yang dilakukan oleh Thompson et al. (1991) menunjukkan bahwa affect tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pemanfaatan personal computer
Cheung and Chang (2001) menemukan bahwa perasaan (affect) secara signifikan berpengaruh pada minat dalam penggunaan internet. Bagaimanapun, dalam penelitian pada pembajakan software, Limayem, Khalifa and Chin (1999) menyatakan pengaruh yang tidak signifikan.
Pengaruh Trust Terhadap Niat (Intention) Terhadap Penggunaan Internet
Trust telah didefinisikan dalam berbagai bentuk, tergantung konteks pendekatan yang akan digunakan atau dibahas. Dalam pandangan psikologi mendefinisikan trust sebagai kecenderungan percaya pada orang lain (Rotter, 1971). Dalam pandangan sosiologi mendefinisikan trust adalah sebuah karateristik dari lingkungan institusi.
Trust mengacu pada suatu keyakinan positif mengenai hal yang dapat dipercaya (reliability), hal yang dapat diandalkan (dependability) dan hal yang diyakini, baik proses dan tujuan seseorang (confidence) Fogg (1999). Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan trust yang didefinisikan oleh Grazioli dan Jevenpaa (2000) yaitu adalah suatu proses pilihan.
Thatcher et al. (2007) mengatakan bahwa trust berada dalam risiko dan ketidakpastian suatu transaksi. Alasan penting mengapa trust dalam teknologi tidak diinvestigasi secara luas, banyak peneliti mengasumsikan pihak terpercaya mempunyai kemauan mengendalikan perilaku mereka. Oleh karena itu, pihak lainnya mengargumentasikan bahwa trust tidak memerlukan batasan perasaan untuk menghubungkan antara human beings, tetapi individu dapat juga merasa percaya terhadap objek dan proses, contohnya, individu percaya jembatan penyebrangan sungai dan mesin penjual otomatis merupakan akses (access) rekening bank mereka.
Corritore, Kracher, dan Wiedenbeck (2003) mengatakan bahwa trust timbul sebagai elemen kunci keberhasilan dalam linkungan on-line. Trust dan hubungan trust dalam dunia offline menjadi topic penelitian dalam berbagai disiplin ilmu sejak tahun 1950-an (Corritore et al. 2001). Aliran penelitian pada trust dapat ditemukan dalam bidang filosofi, sosiologi, psikologi, manajemen, marketing, ergonomics, interaksi manusia-komputer (human-computer interaction/HCI), industrial psychology, dan electronic commerce (e-commerce). Trust telah dipelajari dalam berbagai disiplin, masing-masing disiplin ilmu telah menghasilkan konsep, definisi dan penemuannya sendiri.
Trust dalam teknologi, menggambarkan keyakinan tentang bagaimana teknologi akan melaksanakan kemauan orang untuk percaya terhadapnya. Dua aspek dari trust dalam teknologi adalah keyakinan kepercayaan dan niat percaya yang berhubungan dekat. Keyakinan kepercayaan terjadi ketika individu merasa bahwa target dari kepercayaan mereka adalah murah hati (benevolent), kompeten (competent), jujur (honest) dan dapat diprediksi (predictable). Niat percaya terjadi ketika individu mau tergantung satu sama lain.
Wang dan Emurian (2005;110) mengatakan terdapat banyak definisi trust dalam literature yang mempunyai dua alasan: 1). Trust merupakan konsep abstrak sering digunakan dapat dipertukarkan berhubungan dengan konsep seperti credibility, reliability, or confidence. Dengan demikian, definisi istilah dan untuk mencerminkan perbedaan antara trust dan konsep yang berhubungan dengannya telah membuktikan penuh tantangan untuk peneliti. 2). Trust merupakan konsep berbagai segi yang menyatukan, emosi, dan dimensi perilaku (Lewis & Weigert, 1985).
Zeithaml, Parasuraman, and Malhotra (2002) and Chen and Dhillon (2003) menyatakan bahwa trust adalah sebuah dimensi penting dalam penggunaan web sites. Donthu (2001) menyatakan bahwa trust adalah dihubungkan dengan sikap pada web site. Trust juga dapat meningkatkan sikap pada pembelian online (Jarvenpaa and Todd 1997), niat (intention) pada online (Limayem, Khalifa, and Frini 2000; Vijayasarathy and Jones 2000), intent to purchase online (Lynch, Kent, and Srinivasan 2001), level of online shopping activify (Korgaonkar and Wolin 1999; Miyazaki and Fernandez 2001).

One comment

  1. […] 3, 2009 Jurnal Tinggalkan komentar Go to […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: