h1

Pengalaman Audit, Red Flags, dan Urutan Bukti

August 29, 2009

Model Penyesuaian Keyakinan
Riset ini menggunakan Teori Model Penyesuaian Keyakinan (Belief Adjustment Model) dari Hogarth dan Einhorn tahun 1992 yang menggunakan pendekatan anchoring dan adjustment (general anchoring and adjustment approach). Model ini menggambarkan penyesuaian keyakinan individu karena adanya bukti baru ketika melakukan evaluasi bukti secara berurutan. Pendekatan anchoring dan adjustment adalah bila seseorang melakukan penilaian dengan memulai dari suatu nilai awal dan menyesuaikannya untuk menghasilkan keputusan akhir. Nilai awal ini diperoleh dari kejadian atau pengalaman sebelumnya.
Model Penyesuaian Keyakinan memprediksi bahwa cara orang memperbaiki keyakinannya yang sekarang (anchor) dipengaruhi oleh beberapa faktor bukti. Faktor bukti yang dimaksud adalah kompleksitas bukti yang dievaluasi, konsistensi bukti, dan kedekatan evaluator dengan bukti tersebut. Model ini menempatkan karakteristik tugas sebagai moderator dalam hubungan antara urutan bukti dengan pertimbangan yang akan dibuat.
Fenomena pengaruh urutan bukti muncul karena adanya interaksi antara strategi pemrosesan informasi dan karakteristik tugas. Sifat-sifat bukti yang dipertimbangkan dalam model adalah: (1) arah (sesuai atau tidak sesuai dengan keyakinan awal), (2) kekuatan bukti (lemah atau kuat), dan (3) jenis bukti (negatif, positif, atau campuran). Di samping arah, kekuatan dan jenis bukti, Hogarth dan Einhorn (1992) juga menambahkan urutan bukti (positif setelah itu negatif, negatif-positif atau konsisten positif-positif dan negatif-negatif) dan cara/format/mode (penyampaian informasi secara berurutan atau secara simultan) dalam penyajian bukti. Dalam bentuk berurutan (Step-by-Step; SbS), individu-individu memperbaharui keyakinannya setelah diberikan tiap-tiap potongan bukti dalam serangkaian penyampaian informasi yang terpisah-pisah sedangkan dalam bentuk simultan (End-of-Sequence; EoS) individu-individu memperbaharui keyakinannya begitu semua informasi tersaji dalam bentuk yang telah terkumpul.
Ketika informasi disajikan dalam bentuk SbS, individu menggunakan strategi pengolahan SbS. Di sini individu menyesuaikan keyakinannya secara bertahap begitu diberikan tiap-tiap potongan bukti. Sebaliknya, pengolahan EoS berarti bahwa anchor awal disesuaikan dengan penyajian bukti-bukti secara agregatif. Penyajian dalam bentuk EoS seringkali menghasilkan strategi pengolahan EoS, khususnya bila jumlah item informasi sedikit dan tidak terlalu kompleks. Namun, rangkaian-rangkaian item informasi yang relatif kompleks dan/atau panjang yang disampaikan dalam bentuk EoS mungkin tidak tertampung oleh kapasitas kognitif banyak individu; oleh karena itu orang sering secara khusus menggunakan strategi pengolahan SbS saat dihadapkan dengan kondisi kognitif seperti itu.
Hogarth dan Einhorn (1992) membuat perbedaan antara tugas evaluasi dan estimasi. Pada tugas evaluasi, bukti dilihat sebagai bipolar (-1 ≤ (xk) ≤ +1) relatif terhadap suatu hipotesis (confirming vs disconfirming), dan pengaruhnya independen terhadap titik referensi R(R = 0). Pada tugas estimasi, bukti dilihat sebagai unipolar (0 ≤ s(xk) ≤ 1), dan pengaruhnya tergantung pada R(R – Sk-1). Perbedaan prediksi tergantung pada (a) bagaimana bukti dikodekan (tugas evaluasi vs tugas estimasi); (b) bagaimana bukti diproses (berurutan atau simultan); dan (c) sifat dari proses penyesuaian yang tergantung pada nilai α dan β. Notasi α menunjukkan sensitivitas orang terhadap bukti negatif, sedangkan β menunjukkan sensitivitas orang terhadap bukti positif.
Bukti-bukti empirik menunjukkan bahwa individu-individu membuat perbaikan keyakinan yang lebih besar bila informasi diberikan dalam format SbS, dibandingkan dengan format EoS (Ashton dan Ashton, 1988). Penyebabnya adalah karena penyajian potongan-potongan bukti yang lebih sering (SbS) memberikan kesempatan yang lebih banyak untuk melakukan anchoring (penetapan) dan penyesuaian, dan individu-individu sering melakukan penyesuaian berlebihan (over-adjust) ke arah item-item informasi tersebut.
Tubbs et al. (1990) menemukan order effect dalam bentuk respon berurutan namun tidak dalam simultan, dan sesuai dengan model Hogarth dan Einhorn, dengan meningkatnya kompleksitas pekerjaan, mereka menemukan efek kekinian dalam kedua bentuk respon. Kompleksitas pekerjaan merupakan fungsi dari jumlah informasi yang diterima dan kedekatan subyek dengan tugas tersebut. Apabila jumlah informasi yang diterima subyek adalah panjang, maka subyek akan menganggap pekerjaan tersebut adalah kompleks. Kedekatan mencerminkan seringnya subyek mengerjakan tugas yang serupa, yang artinya semakin sering subyek mengerjakan tugas yang serupa maka semakin terbuka kemungkinan untuk memroses informasinya lebih mendalam.
Ashton dan Ashton (1988) merupakan perintis penerapan Model Penyesuaian Keyakinan pada bidang audit. Ashton dan Ashton menguji revisi keyakinan berurutan dengan menyederhanakan konteks audit yang dilaporkan, karena metoda yang digunakan adalah eksperimen dan kasus yang diangkat adalah masalah pengendalian intern penggajian dan piutang. Dengan menggunakan 211 auditor dan cara penyajian berurutan dan simultan, hasilnya menyarankan bahwa revisi keyakinan auditor tergantung atas urutan bukti yang diterima dan hasil ini memberikan perubahan sikap terhadap bukti yang dihadapi oleh auditor.
Tubbs et al., (1990) memperluas penelitian Ashton dan Ashton (1988) dengan kajian yang lebih kaya yaitu menguji apakah urutan bukti memiliki pengaruh yang signifikan terhadap revisi keyakinan auditor. Hasilnya menunjukkan tidak ada pengaruh urutan untuk bukti yang konsisten, tetapi ada pengaruh untuk bukti yang tidak konsisten. Implikasi praktis dari temuan ini adalah, jika revisi keyakinan auditor tergantung pada aspek yang tidak relevan maka kualitas audit menjadi akan terpengaruh, artinya pertimbangan dan keputusan auditor hanya memberi penekanan pada urutan bukti yang paling terakhir yang mana level signifikansinya belum tentu tinggi.
Asare (1992) menguji interaksi variabel-variabel tugas dan berurutan pemrosesan dari bukti dalam kaitannya dengan keputusan mengenai kelangsungan hidup perusahaan. Studi ini memperluas penelitian sebelumnya dengan menguji apakah urutan bukti terjadi dalam frame yang dihipotesiskan dan menghubungkan dengan berbagai laporan audit yang diterbitkan. Pemrosesan berurutan dari bukti adalah penting bagi auditor karena itu menunjukkan bagaimana pertimbangan itu dibuat. Studi Asare ini menghipotesiskan bahwa pemrosesan berurutan dari bukti akan menentukan suatu efek kekinian dalam pertimbangan auditor mengenai kelangsungan hidup perusahaan. Dengan menggunakan 70 manajer dan partner kondisi eksperimen dibuat dalam dua level frame (kelangsungan hidup perusahaan terganggu dan kelangsungan hidup perusahaan tidak terganggu) dan dua level urutan bukti (positif-negatif dan negatif-positif). Hasil studi Asare mengakui adanya efek kekinian dalam perbaikan keyakinan dan pilihan laporan audit.
Messier (1992) menguji Model Penyesuaian Keyakinan dengan menggunakan dua kasus yaitu utang dan kelangsungan hidup perusahaan untuk membuktikan bahwa ketika auditor mengevaluasi bukti yang tidak konsisten dengan serial pendek akan timbul efek kekinian dalam pertimbangan auditor. Dua eksperimen dilakukan untuk menguji hipotesis dalam berbagai praktik audit yang berbeda. Eksperimen 1 yang menggunakan auditor staf, menginvestigasi pertimbangan auditor mengenai penyajian akun utang apakah telah disajikan secara wajar. Hasil eksperimen 1 menunjukkan bahwa efek kekinian terjadi ketika auditor mengevaluasi bukti tidak konsisten serial pendek dalam penilaian utang perusahaan klien. Ini berarti ketika auditor staf mengevaluasi bukti kewajaran penyajian utang pada laporan keuangan, bila disajikan secara berurutan maka auditor akan terkena efek kekinian yaitu penilaian dan pertimbangan auditor terpengaruh oleh bukti yang paling akhir. Sebaliknya, pada eksperimen 2 yaitu dengan menggunakan partisipan manajer dan partner, Messier menemukan urutan bukti tidak mempengaruhi pilihan laporan audit yang diterbitkan pada kasus perusahaan yang menghadapi masalah dengan kelangsungan hidupnya. Hasil yang berbeda ini kemungkinan disebabkan oleh subyek yang lebih berpengalaman pada eksperimen 2 dibandingkan dengan subyek pada eksperimen 1.
Trotman dan Wright (1996) mencoba membandingkan tiga kelompok pengalaman yaitu mahasiswa akuntansi, senior dan manajer auditor dalam penilaian pengendalian intern dan kelangsungan hidup perusahaan. Cara penyajian informasi yang diuji adalah secara berurutan (bertahap) dan simultan (respon diberikan setelah semua bukti terkumpul). Hasilnya mengindikasikan bahwa kelompok mahasiswa mengalami efek kekinian untuk kedua cara penyajian informasi dan kedua tugas penilaian. Auditor senior menunai hasil yang lebih baik, karena pada penilaian pengendalian intern dengan cara penyajian simultan efek kekiniannya tereduksi, akan tetapi pada cara penyajian berurutan untuk penilaian pengendalian intern efek kekiniannya masih tetap ada.
Red Flags
Analisis mengenai red flags tidak akan terlepas dari pemahaman tentang fraud.
Seperti yang dinyatakan oleh Montgomery dkk. (2002) bahwa ada fenomena segitiga kecurangan (the fraud triangle). Konsep fraud triangle pertama kali diperkenalkan dalam SAS No. 99 yaitu standar audit di Amerika Serikat yang terdiri dari: tekanan, kesempatan dan rasionalisasi.
Pertama, Tekanan yaitu insentif yang mendorong orang melakukan kecurangan karena tuntutan gaya hidup, ketidakberdayaan dalam soal keuangan, perilaku gambling, mencoba-coba untuk mengalahkan sistem dan ketidakpuasan kerja (Salman, 2005). Tekanan ini sesungguhnya mempunyai dua bentuk yaitu nyata (direct) dan persepsi (indirect). Tekanan nyata disebabkan oleh kondisi faktual yang dimiliki oleh pelaku seperti orang sering gambling atau menghadapi persoalan-persoalan pribadi, sedangkan tekanan karena persepsi merupakan opini yang dibangun oleh pelaku yang mendorong untuk melakukan kecurangan seperti misalnya executive need.
Kedua, Kesempatan yaitu peluang yang menyebabkan pelaku secara leluasa dapat menjalankan aksinya yang disebabkan oleh kontrol yang lemah, ketidakdisplinan, kelemahan dalam mengakses informasi, tidak ada mekanisme audit, dan sikap apatis. Hal yang paling menonjol di sini adalah dalam hal kontrol. Kontrol yang tidak baik akan memberi peluang orang untuk melakukan kecurangan.
Ketiga, Rasionalisasi yaitu sikap yang ditunjukkan oleh pelaku dengan melakukan justifikasi atas perbuatan yang dilakukan. Hal ini merujuk pada sikap, karakter atau sistem nilai yang dianut oleh pelakunya. Rasionalisasi mengacu pada fraud yang bersifat situasional. Menurut Salman (2005) pelaku akan mengatakan: “I’m only borrowing they money; I’ll pay it back”, “Everyone does it”, “I’m not hurting anyone”, “It’s for a good purpose”, dan“It’s not that serious”. Sikap dan perilaku rasionalisasi bisa juga akan melahirkan perilaku serakah.
Menurut Sofjan (2005) pencegahan kecurangan dapat dilakukan dari aspek kebijakan, prosedur, organisasi, teknik pengendalian dan peran serta pegawai. Kelima aspek ini mempunyai keterkaitan karena berada dalam satu sistem yang sama.
Kebijakan merupakan pernyataan niat (maksud) manajemen dalam rangka menjalankan kendali organisasi, termasuk penentuan arah, tujuan serta cara-cara yang perlu ditempuh untuk mencapainya. Kebijakan memuat antara lain hal-hal yang bersifat mengharuskan, membatasi, mengarahkan, membimbing, mendorong dan lain-lain. Seluruh kebijakan tersebut harus tertulis dan dikomunikasikan secara reguler.
Prosedur adalah tata cara yang dipakai untuk melaksanakan kebijakan/niat tersebut. Di dalam menyusun prosedur ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu kecepatan dan keamanan dalam melakukan kegiatan. Prosedur disusun sejalan dengan pemberian wewenang di dalam organisasi dan secara berkala harus direview, oleh karena itu harus dikoordinasikan dengan internal auditor yang akan selalu menilai keefektifan prosedur tersebut.
Organisasi harus dilengkapi dengan uraian tugas yang jelas dan terperinci agar dapat dihindarkan timbulnya perebutan wewenang atau saling lempar tanggung jawab. Dalam tiap kegiatan di dalam organisasi harus diciptakan pemisahan fungsi antara fungsi pencatatan, penyimpanan, pengurusan dan pemeriksaan intern. Unsur pimpinan hendaknya menyadari bahwa yang dapat dilimpahkan adalah wewenang dan bukan tanggung jawab.
Ada tiga unsur penting dalam aspek teknik pengendalian yaitu perencanaan, pencatatan dan pelaporan, serta pemeriksaan intern. Dalam perencanaan digambarkan secara jelas macam kegiatan, tahap pelaksanaan kegiatan, pelaksanaan kegiatan dan dana yang digunakan, sehingga perencanaan juga sekaligus merupakan sarana koordinasi di dalam pelaksanaan kegiatan. Pencatatan harus menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Di dalam proses pencatatan orang yang melakukan pencatatan harus terpisah dari orang yang melakukan kegiatan untuk mencegah adanya penyimpangan di dalam pencatatan. Pelaporan adalah upaya menginformasikan kegiatan dan perkembangannya di dalam organisasi kepada pimpinan secara benar dan dipercaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: