h1

Identifikasi Auditor atas Klien Terhadap Objektivitas Auditor dengan Auditor Tenure, Client Importance dan Client Image

August 27, 2009

Teori Identitas Sosial
Teori Identitas Sosial menyatakan bahwa identitas sosial dari seorang individu berasal dari proses kategorisasi pribadi melalui individu yang secara kognitif akan membentuk kelompoknya sendiri dengan pihak lainnya. Seperti halnya Teori Identitas Sosial yang secara potensial memberikan penjelasan berbasis kognitif, hal ini berlawanan dengan penjelasan akan ketergantungan ekonomis (economic dependence), karena adanya alasan mengapa klien memiliki pengaruh yang terlalu berlebihan pada auditor.
Menurut teori Teori Identitas Sosial, individu akan mengklasifikasikan diri mereka sendiri kedalam kelompok sosial yang beragam, seperti kelompok berdasarkan pekerjaan, umur, kelamin, suku bangsa, atau bahkan agama (Turner, 1987; Ashforth dan Mael, 1989). Identitas yang sifatnya beragam ini memiliki perbedaannya sendiri-sendiri dan mungkin juga sesuai atau saling bersaing dan saling melengkapi satu sama lain (Wallace, 1995; Scott, 1997).
Kategorisasi pribadi ini berperan sebagai titik awal untuk berpikir dan melakukan hubungan sosial. Teori identitas sosial akan cenderung meningkat ketika individu melakukan internalisasi terhadap norma kelompok dan nilai-nilai yang ada. Individu akan cenderung untuk mengidentifikasi kelompok yang memiliki nilai yang bisa menarik perhatian individu tersebut (Alvesson, 2000).

Identifikasi Klien
Teori Identitas Sosial memprediksikan bahwa pegawai dalam sebuah perusahan jasa yang memiliki identifikasi langsung dengan klien akan menjadi bagian utama dalam pekerjaan mereka dan akan menjadi awal dari sebuah proses identifikasi terhadap klien. Auditor mungkin akan bekerja dengan klien untuk periode waktu yang sangat lama dan dilakukan berulang-ulang dengan basis tahunan. Untuk melakukan proses auditing yang efektif dan efisien, maka auditor harus memahami bisnis klien, sistem informasi akuntansi serta mengetahui siapa yang menjadi karyawan inti atau karyawan kunci (AICPA Professional Standards, AU 311). Auditor juga akan memandang kliennya sebagai sebuah perusahan yang berpotensi besar di masa yang akan datang yang akan terus mempekerjakan mereka. Oleh karena itulah auditor akan cenderung melakukan identifikasi terhadap klien.

Variabel Anteseden
Teori Identitas Sosial menjelaskan tentang pengaruh identifikasi auditor terhadap klien dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu, lamanya auditor berhubungan dengan klien (auditor tenure), pentingnya klien (client importance) dan kesan klien (client image).
a. Lamanya Auditor Berhubungan dengan Klien (Auditor Tenure)
Lamanya seorang auditor bekerja dan berhubungan dengan klien (auditor tenure), yaitu lamanya waktu seorang auditor bekerja dalam kontrak. Duton dkk (1994) menyatakan bahwa semakin lama seseorang berada dalam organisasi atau perusahan maka dia akan semakin menjadi bagian dalam perusahaan atau organisasi tersebut untuk kategorisasi pribadi. Sejumlah studi yang ada menemukan adanya peningkatan waktu bekerja dengan identifikasi organisatoris (O’Reilly dan Chatman, 1986; Mael dan Ashforth, 1992).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Bamber dan Iyer (2005) menunjukkan tiga variabel dalam Teori Identitas Sosial yang menjelaskan dan meningkatkan identifikasi klien oleh auditor. Lama keterikatan auditor mengaudit klien, pentingnya klien bagi auditor dan kesan atas klien. Semua variabel ini berhubungan secara signifikan dengan semakin tingginya identifikasi klien oleh auditor.

b. Pentingnya Klien Bagi Auditor (Client importance)
Klien utama seringkali merupakan klien terbesar yang dimiliki oleh auditor (Reynolds dan Francis, 2000; Chung dan Kallapur, 2003) dan seringkali auditor akan menghabiskan waktu yang lebih lama dengan pihak klien. Ketika suatu klien dipandang sebagai sumber pendapatan yang berlangsung terus, hal ini secara potensial dapat mengurangi independensi auditor. Teori Identitas Sosial menjelaskan adanya pengaruh atau efek positif dari kesan pribadi seorang auditor yang diberi tugas atau dipekerjakaan oleh klien secara signifikan akan meningkatkan identifikasi klien.

c. Kesan atas Klien (Client Image)
Teori Identitas Sosial menjelaskan bahwa client image merupakan faktor penentu yang penting dari identitas sosial. Individu akan cenderung mengidentifikasi kelompok yang memiliki kesan menarik sehingga hubungan dengan kelompok tersebut akan meningkatkan kesan individu. Wan-Higgins dkk (1988) menemukan bahwa kesan (image) eksternal yang dijelaskan (seperti kepercayaan seorang pegawai bahwa konsumen dan pihak lainnya dalam industri akan mempersepsikan perusahaannya sebagai sebuah tempat yang tepat dan baik untuk bekerja) adalah menjadi faktor penentu yang penting dari identifikasi pribadi seorang pegawai terhadap perusahaannnya.
Hubungan Client Identification dengan Auditor’s Client Acquiescence
Jika seorang auditor menunjukkan identifikasi klien dengan tingkatan yang signifikan, maka sangatlah perlu untuk mempertanyakan obyektivitas auditor. Obyektivitas meminta seorang auditor untuk melakukan penilaian audit yang tidak bersifat bias dari pada menyetujui keinginan klien (ISB, 2000). Obyektivitas adalah jantung dari nilai seorang auditor terhadap kelompok sosial untuk memberikan sebuah opini atau pendapat yang sifatnya tidak bias terhadap keadilan dari sebuah laporan keuangan yang dikeluarkan oleh klien (Johnston dkk, 2001).
Dengan adanya pelatihan profesional, maka seorang auditor mungkin saja dapat mengendalikan keberadaan identifikasi auditor terhadap klien sehingga tidak akan membahayakan profesionalisme dan obyektivitas yang mereka miliki. Dewan Standard Independensi dalam A Conceptual Framework for Auditor Independence (2000) membuat sebuah daftar tentang familiaritas: “ancaman yang muncul dari auditor akan dipengaruhi oleh hubungan erat yang terjadi dengan pihak klien atau pihak yang diaudit”, sebagai salah satu dari lima ancaman terhadap independensi auditor. Johnstone dkk (2001) mengidentifikasi hubungan interpersonal antara auditor dan klien sebagai suatu dorongan yang akan menciptakan resiko independensi.
Hubungan Profesional Identification dengan Auditor’s Client Acquiescence
Teori identitas Sosial menyatakan bahwa individu akan menggolongkan diri mereka ke dalam berbagai kelompok sosial, seperti kelompok yang berasarkan pada pekerjaan, usia, gender, agama atau bahkan anggota organisasi profesi (Tajfel dan Turner 1985; Dutton dkk, 1994). Maka, auditor mungkin juga akan mengidentifikasikan profesi dan perusahaan mereka. Kemampuan dari perusahaan untuk memfasilitasi harapan profesional individu dan kekuatan suatu identitas profesional akan meningkatkan identifikasi profesional (Aranya dkk. 1981; Norris dan Niebuhr 1984; Meixner dan Bline 1989). Dalam penelitian mereka tentang profesionalisme auditor internal, Fogarty dan Kalbers (1995) menemukan bahwa internal audit dengan tingkat profesionalisme yang tinggi lebih memiliki komitmen terhadap organisasi mereka.
Ketika identifikasi klien memberikan ancaman terhadap rusaknya obyektivitas seorang auditor, ada fitur lain dari auditor yang dapat mengimbangi ancaman ini. Salah satunya adalah faktor dimana identifikasi profesional yang dimiliki oleh auditor. Auditor yang melakukan identifikasi terhadap profesinya akan cenderung melakukan internalisasi dengan nilai dan norma profesi. Sebagai akibatnya, identifikasi profesional sebaiknya dapat meningkatkan dan mendorong perilaku profesional dan obyektivitas seorang auditor (Johnstone dkk, 2001).
Hubungan Audit Firm Tenure dengan Auditor’s Client Acquiescence
Salah satu usulan untuk mengurangi ancaman yang dapat merusak obyektivitas auditor adalah dengan meminta mereka untuk melakukan rotasi terhadap perusahan yang diaudit dalam suatu batasan waktu tertentu. Rotasi ini bertujuan untuk mencegah auditor dan KAP yang mungkin bisa menjadi tergantung pada klien tersebut sepanjang waktu. Metcalf Committe (US Senate, 1976, p. 21) untuk pertama kali menyatakan bahwa “Pergantian (rotasi) auditor yang bersifat mandatory adalah cara untuk memperkuat independensi seorang auditor”.
Riset terkini (Bamber dan Iyer, 2002; Imhoff, 2003; Moon, 2005) menemukan bahwa lamanya keterikatan auditor bekerja pada perusahaan klien berhubungan dengan makin tingginya kualitas audit, yang menjelaskan bahwa rotasi kantor akuntan publik tidak akan dapat memberikan hal yang bersifat produktif. Sama halnya seperti yang disimpulkan oleh Ghosh dan Moon (2005) yang menyatakan bahwa investor dan mediator akan mempersepsikan lamanya keterikatan KAP dengan klien dengan semakin meningkatkan kualitas audit.
Bamber dan Iyer (2005) menguji secara langsung hubungan keterikatan KAP dengan klien mempengaruhi objektivitas dari penilaian audit. Jika memiliki pengetahuan yang spesifik atas perusahaan klien maka ini adalah suatu keuntungan bagi KAP melalui pengalamannya mengaudit klien. Hal ini merupakan knowledge institutional yang mungkin dapat membantu auditor dalam membuat penilaian yang lebih obyektif. Misalnya, pengetahuan ini sebagai dasar bagi auditor untuk sedikit lebih percaya pada perkiraan-perkiraan manajemen dalam pelaksanaan aktivitasnya (Solomon dkk. 1999). Memberikan pemikiran kepada pihak regulator bahwa rotasi dapat meningkatkan obyektivitas auditor.
Hubungan Varibel Kontekstual dengan Auditor’s Client Acquiescence
Bamber & Iyer (2002) menyertakan variabel yang spesifik dengan klien (client-specific) dan variabel yang spesifik dengan auditor (auditor-specific) untuk mengendalikan faktor–faktor lainnya (diluar identifikasi klien, identifikasi professional, dan lamanya auditor bekerja untuk klien) yang mungkin akan mempengaruhi obyektivitas dari penilaian auditor. Pertama Bamber & Iyer (2002) mengendalikan ukuran klien (client size). Hal ini untuk mengendalikan dorongan finansial yang diberikan oleh klien agar auditor menyetujui posisi yang diinginkan oleh klien karena ketergantungan ekonomis auditor terhadap klien (Reynolds dan Francis, 2000).
Kedua, Bamber & Iyer (2002) mengendalikan pengalaman kerja auditor (auditor experience) karena pengalaman kerja auditor berhubungan dengan makin baiknya kinerja mereka dalam tugas audit (Bonner dan Pennington, 1991), semakin berpengalaman seorang auditor maka akan semakin baik mereka untuk dapat bertahan terhadap tekanan-tekanan dari klien (Hackenbrack dan Nelson, 1996) misalkan tekanan waktu (Mc. Daniel, 1990), dan semakin berpengalaman seorang auditor maka akan semakin besar keterampilan manajerial yang mereka miliki untuk mengimbangi tuntutan yang dihadapi dalam proses audit (Tan dan Libby, 1997; Moreno dan Bhattacharjee, 2003). Ringkasnya, Bamber & Iyer (2002) menjelaskan bahwa obyektivitas auditor akan rusak oleh ukuran perusahaan klien, tetapi akan semakin membaik/meningkat seiring dengan bertambahnya pengalaman auditor.

One comment

  1. saya ingin menanyakan dimana saya bisa mendapatkan penelitian jurnal dari Bamber dan Iyer, 2002; Imhoff, 2003; Moon, 2005 karena saya membutuhkan bahan untuk membuat thesis mengenai rotasi auditor?



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: