h1

PERSEPSI INTENSITAS MORAL MAHASISWA AKUNTANSI DALAM PROSES PEMBUATAN KEPUTUSAN MORAL

August 26, 2009

Moral
Etika dalam bahasa latin adalah ethica, yang berarti falsafah moral. Menurut Keraf (1998) etika secara harfiah berasal dari kata Yunani, ethos (jamaknya ta etha), yang artinya sama dengan moralitas, yaitu adat kebiasaan yang baik. Adat kebiasaan yang baik ini kemudian menjadi sistem nilai yang berfungsi sebagai pedoman dan tolok ukur tingkah laku yang baik dan buruk. Etika merupakan suatu prinsip moral dan perbuatan yang menjadi landasan bertindak seseorang sehingga apa yang dilakukannya dipandang oleh masyarakat sebagai perbuatan terpuji dan meningkatkan martabat dan kehormatan seseorang. Etika sangat erat kaitannya dengan hubungan yang mendasar antar manusia dan berfungsi untuk mengarahkan kepada perilaku moral.
2.2. Isu Moral
Proses pembuatan keputusan manusia sering digerakkan oleh munculnya suatu problem/masalah yang membutuhkan solusi ataupun respon, dan seringkali membentuk tindakan (Jones, 1991). Tidak terkecuali pembuatan keputusan moral; proses dimulai dengan suatu problem, yang mencakup komponen moral. Komponen moral dari problem, atau isu moral, dapat dikarakteristikkan dalam istilah intensitas moral.
Untuk memulai proses pembuatan keputusan moral, seseorang harus mampu untuk mengenali isu moral. Meskipun banyak keputusan tersebut bermoral, pembuat keputusan tidak selalu mengenali elemen moral pada setiap keputusannya. Isu moral muncul ketika tindakan seseorang, ketika dengan bebas ditunjukkannya, dapat merugikan ataupun menguntungkan orang lain. Seseorang tersebut harus menyadari bahwa dia adalah pembawa moral (moral agent). Seseorang yang gagal mengenali isu moral akan gagal pula dalam melakukan proses pembuatan keputusan moral.
2.3. Persepsi
Matlin (1998) mendefenisikan persepsi sebagai suatu proses yang melibatkan pengetahuan-pengetahuan sebelumnya dalam memperoleh dan menginterpretasikan stimulus yang ditunjukkan oleh indera. Persepsi juga merupakan kombinasi faktor dunia luar (stimulus visual) dan diri sendiri (pengetahuan sebelumnya). Persepsi memiliki dua aspek, yaitu : pengakuan pola (pattern recognition) dan perhatian (attention). Pengakuan pola meliputi identifikasi serangkaian stimulus yang kompleks, yang dipengaruhi oleh konteks yang dihadapi dan pengalaman masa lalu. Sementara, perhatian merupakan konsentrasi dari aktivitas mental, yang melibatkan pemerosesan lebih lanjut atas suatu stimuli dan dalam waktu bersamaan tidak memindahkan stimuli yang lain. Sementara Rakhmat (1993) menyatakan bahwa persepsi merupakan pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan, yang ditentukan oleh faktor personal dan faktor situasional.
Sejalan dengan Matlin (1998), Davidoff (1981) menyatakan bahwa persepsi sebagai satu kerja yang rumit dan aktif. Persepsi dikatakan rumit karena walaupun persepsi merupakan pertemuan antara proses kognitif dan kenyataan, persepsi lebih banyak melibatkan kegiatan kognitif. Persepsi lebih banyak dipengaruhi oleh kesadaran, ingatan, pikiran, dan bahasa, maka dengan demikian persepsi bukanlah cerminan yang tepat dari realitas.
2.4. Pembuatan Keputusan Etis (Ethical Decision Making)
Keputusan etis (ethical decision) adalah sebuah keputusan yang baik secara legal maupun moral dapat diterima oleh masyarakat luas (Trevino, 1987; Jones, 1991). Beberapa review tentang penelitian etika mengungkapkan beberapa penelitian empirik tentang pembuatan keputusan etis. Salah satu determinan penting perilaku pembuatan keputusan etis adalah faktor-faktor yang secara unik berhubungan dengan individu pembuat keputusan dan variabel-variabel yang merupakan hasil dari proses sosialisasi dan pengembangan masing-masing individu. Faktor-faktor individual tersebut meliputi variabel-variabel yang merupakan ciri pembawaan sejak lahir (gender, umur, kebangsaan dan sebagainya). Sedangkan faktor-faktor lainnya adalah faktor organisasi, lingkungan. Penelitian tentang pengambilan keputusan etis, telah banyak dilakukan dengan berbagai pendekatan mulai dari psikologi sosial dan ekonomi. Beranjak dari berbagai hasil penelitian tersebut kemudian dikembangkan dalam paradigma ilmu akuntansi.
Beberapa model penelitian etis seringkali hanya mendeskripsikan bagaimana proses seseorang mengambil keputusan yang terkait dengan etika dalam situasi dilema etika (Jones, 1991; Trevino, 1986). Sebuah model pengambilan etis tidak berada kepada pemahaman bagaimana seharusnya seseorang membuat keputusan etis (ought to do), namun lebih kepada pengertian bagaimana proses pengambilan keputusan etis itu sendiri. Alasannya adalah sebuah pengambilan keputusan akan memungkinkan menghasilkan keputusan yang etis dan keputusan yang tidak etis, dan memberikan label atau mendefinisikan apakah suatu keputusan tersebut etis atau tidak etis akan mungkin sangat menyesatkan.
2.5. Latar Belakang Pembuatan Keputusan Moral
James Rest (1986, dalam Cohen dan Bennie, 2006) menyatakan bahwa untuk bertingkah laku secara moral, seorang individu melakukan empat proses psikologi dasar yaitu:
1. Recognize Moral Issue (pengenalan isu moral),
2. Make Moral Judgment (melakukan pertimbangan moral)
3. Establish Moral Intent (membentuk maksud/niat moral), dan
4. Engage Moral Behavior (menggunakan perilaku moral).
Jones (1991) menyatakan ada 3 unsur utama dalam pembuatan keputusan etis, yaitu pertama, moral issue, menyatakan seberapa jauh ketika seseorang melakukan tindakan, jika dia secara bebas melakukan tindakan itu, maka akan mengakibatkan kerugian (harm) atau keuntungan (benefit) bagi orang lain. Dalam bahasa yang lain adalah bahwa suatu tindakan atau keputusan yang diambil akan mempunyai konsekuensi kepada orang lain. Kedua adalah moral agent, yaitu seseorang yang membuat keputusan moral (moral decision). Ketiga adalah keputusan etis (ethical decision) itu sendiri, yaitu sebuah keputusan yang secara legal dan moral dapat diterima oleh masyarakat luas.
Jones (1991) mengembangkan suatu model isu-kontinjen untuk lebih memahami pengaruh dari isu-isu moral yang terdiri atas konstruk intensitas moral yang digagas oleh Rest melalui model empat komponennya untuk meneliti pengaruh persepsi intensitas moral dalam proses pembuatan keputusan moral. Jones menyatakan bahwa isu intensitas moral berpengaruh secara signifikan terhadap proses pembuatan keputusan. Penelitian terdahulu telah menguji pengaruh komponen intensitas moral terhadap sensitivitas moral (Singhapakdi dkk., 1996; May dan Pauli, 2000), pertimbangan moral (Webber, 1990, 1999; Morris dan McDonald, 1995; Ketchand dkk., 1999; Shafer dkk., 1999), dan intensi moral (Singhapakdi dkk., 1996, 1999; Shafer dkk., 1999; May dan Pauli, 2000). Dalam penelitian ini, komponen intensitas moral diketahui memiliki pengaruh secara signifikan terhadap proses pembuatan keputusan moral. Cohen dan Bennie (2006) menyatakan bahwa penelitian mengenai pengaruh komponen intensitas moral terhadap proses pengambilan keputusan masih sedikit dilakukan.
2.6. Intensitas Moral
Intensitas Moral (Moral Intensity) adalah sebuah konstruk yang menggambarkan tingkat isu moral utama dalam suatu situasi. Sifatnya multidimensi, dan masing-masing komponennya merupakan karakteristik dari isu-isu moral. Jones (1991, h.372) menyebutkan intensitas moral tersebut tidak memasukkan sifat/ciri dari si-pembuat keputusan, seperti pengembangan moral (moral development) (Kohlberg, 1976), kekuatan ego (ego strength), locus of control (Trevino, 1986), pengetahuan atau nilai (knowlwdge and value) (Ferrel dan Gresham, 1985). Juga tidak memasukkan faktor-faktor organisasional, seperti budaya organisasi (Trevino, 1986), atau kebijakan perusahaan (Ferrel dan Gresham, 1985). Intensitas moral hanya berfokus pada isu moral, bukan pada pembawa moral (moral agent) maupun konteks organisasi.
Intensitas moral pada hakekatnya bervariasi dari setiap isu, dengan sedikit isu mencapai tingkat yang tinggi dan banyak isu pada tingkat yang rendah. Reabilitas dan stabilitas intensitas moral tidak diketahui pasti, tapi parameter-parameter ini ditetapkan secara empiris (Jones, 1991, h. 373).
2.7. Komponen dari Intensitas Moral Jones
Jones (1991) menyatakan bahwa intensitas moral (moral intensity) terdiri atas enam elemen, yaitu: Besaran Konsekuensi (the magnitude of consequences), Konsensus Sosial (social consensus), Probabilitas Efek (probability of effect), Kesegeraan Temporal (temporal immediacy), Kedekatan (Proximity), dan Konsentrasi Efek (concentration of effect). Flory, dkk. (1992, dalam Leisch, 2004) merangkum keenam komponen yang berkaitan dengan isu-isu (masalah) yang berhubungan dengan akuntansi ini dalam skenario yang berkaitan dengan situasi akuntansi, dan dapat digambarkan sebagai berikut.
(1) Besaran Konsekuensi (the Magnitude of Consequences), didefinisikan sebagai jumlah kerugian (atau manfaat) yang dihasilkan oleh pengorbanan (atau kebermanfaatan) dari sebuah tindakan moral. Dimasukkannya besaran konsekuensi ini dalam konstruk intensitas moral didasarkan pada observasi pada perilaku manusia dan bukti-bukti yang diperoleh, seperti keputusan yang menyertakan keinginan si pembawa moral (moral agent). Contohnya: skenario mengenai seorang akuntan manajemen di suatu perusahaan yang terpaksa mengikuti permintaan rekan sekerjanya mengenai persetujuan laporan biaya yang seharusnya dilaporkan ke komisi audit.
(2) Konsensus Sosial (Social Consensus) didefinisikan sebagai tingkat kesepakatan sosial bahwa sebuah tindakan dianggap jahat atau baik. Sebagai contoh: skenario mengenai si A (seorang pengawas internal pada suatu perusahaan) yang diminta oleh atasannya untuk menaikkan modal kerja dengan berbagai cara (seperti menahan penjualan lebih lama atau meninjau ulang kerugian piutang). Ketika si A mendiskusikan hal ini dengan temannya, temannya tersebut mengatakan bahwa hal tersebut wajar, dan kebanyakan pimpinan akan meminta hal yang sama kepada bawahannya.
(3) Probabilitas Efek (Probability Of Effect) merupakan sebuah fungsi bersama dari kemungkinan bahwa tindakan tertentu akan secara aktual mengambil tempat dan tindakan tersebut akan secara aktual menyebabkan kerugian (manfaat) yang terprediksi. Sebagai contoh: Kasus si A pada poin (2) di atas akan melakukan pertimbangan moral dengan mengasumsikan kecil sekali kemungkinan keputusannya tersebut akan mengakibatkan kerugian.
(4) Kesegeraan Temporal (Temporal Immediacy) adalah jarak atau waktu antara pada saat terjadi dan awal mula konsekuensi dari sebuah tindakan moral tertentu (waktu yang makin pendek menunjukkan kesiapan yang lebih besar). Kesegeraan Temporal ini adalah sebuah konstruk komponen dengan dua alasan. Pertama, jika nilai mata uang sekarang lebih besar dari pada pada masa yang akan datang, seorang pedagang cenderung mendiskon barang dagangan untuk memperoleh uang secepatnya. Kedua, periode waktu antara tindakan yang ditanyakan dan yang diharapkan dalam memperluas bidang usaha akan menyebabkan kerugian yang sedikit. Sebagai contoh: si A pada skenario pada poin (2) di atas menganggap keputusannya tidak akan dengan segera menyebabkan kerugian dimasa mendatang, sehingga tindakannya di masadepan akan terbiasa untuk melakukan hal yang sama.
(5) Kedekatan (Proximity) adalah perasaan kedekatan (sosial, budaya, psikologi, atau fisik) yang dimiliki oleh pembawa moral (moral agent) untuk si pelaku dari kejahatan (kemanfaatan) dari suatu tindakan tertentu. Konstruk kedekatan ini secara intuitif dan alasan moral menyebabkan seseorang lebih peduli pada orang-orang yang berada didekatnya (secara sosial, budaya, psikologi ataupun secara fisik) daripada kepada orang-orang yang jaraknya jauh. Sebagai contoh: Si A pada skenario diatas memutuskan untuk mengambil tindakan akan mempertimbangkan apakah keputusannya tersebut akan mempengaruhi rekan kerjanya atau tidak.
(6) Konsentrasi Efek (Concentration Of Effect) adalah sebuah fungsi infers dari jumlah orang yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh sebuah tindakan yang dilakukan. Orang-orang yang memiliki perasaan kepentingan yang tertinggi akan bertindak secara amoral yang akan menghasilkan konsentrasi efek tinggi. Contoh: Si A pada skenario pada poin (2) di atas akan melakukan pertimbangan moral apakah keputusannya tersebut akan mengakibatkan kerugian (jika ada) bagi sedikit orang atau tidak.
2.8. Issue-contingent Model Jones
Berdasarkan model Rest dan konstruk intensitas moral di atas, Jones (1991) mengusulkan suatu model yang di kenal sebagai issue-contingent model dengan menggabungkan empat komponen Rest dan enam karakteristik Intensitas Moral. Gambar 1 menunjukkan bahwa Intensitas Moral memiliki pengaruh langsung pada setiap empat komponen Rest.

One comment

  1. Semoga bermanfaat



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: