h1

Skema Bonus Direksi terhadap Aktivitas Manajemen Laba Skema Kompensasi bagi Direksi BUMN

August 23, 2009

Sampai saat ini belum ada pedoman baku yang baru tentang penetapan kompensasi atau remunerasi bagi Direksi BUMN. Penetapan penghasilan bagi Direksi BUMN saat ini masih mengacu pada pedoman internal yang diterbitkan tahun 2002, dimana berdasarkan pedoman tersebut remunerasi bagi Direksi BUMN terdiri atas gaji, fasilitas, tantiem/jasa produksi, dan santunan purna jabatan.
Tantiem/Jasa Produksi (selanjutnya akan disebut ”bonus”) merupakan penghargaan yang diberikan oleh RUPS kepada anggota Direksi setiap tahun apabila perusahaan memperoleh laba. Besaran maksimum bonus ditetapkan berdasarkan persentase tertentu dari laba dibagi. Dalam hal ini, laba dibagi adalah laba bersih setelah pajak dikurangi dengan: a) akumulasi rugi tahun sebelumnya; 2) laba penjualan aktiva; 3) laba penjualan saham anak perusahaan; dan 5) pendapatan lain-lain dari restitusi pajak tahun buku sebelumnya.
Jumlah bonus maksimum tersebut yang bisa dibayarkan kepada Direksi BUMN Persero dan Perum sangat tergantung pada persentase pencapaian laba usaha sebelum biaya bunga dan penyusutan, laba usaha sebelum biaya bunga dan laba bersih baik terhadap realisasi tahun lalu maupun anggarannya serta tingkat kesehatan BUMN tahun yang bersangkutan dikalikan dengan faktor penyesuaian. Nilai yang diperoleh untuk masing-masing komponen tersebut kemudian dikonversi ke dalam bentuk indeks yaitu masing-masing indeks trend untuk persentase pencapaian atas realisasi laba tahun lalu, indeks target untuk pencapaian anggaran laba, dan indeks tingkat kesehatan.

2.2. Skema Bonus dan Manajemen Laba
Hasil-hasil penelitian sebagian besar mengarah pada bukti adanya pola manajemen laba yang meningkatkan laba atau income increasing (Watts, 1977; Watts dan Zimmerman, 1978; Dye, 1988; Scott, 1997) dan the big bath accounting dan/atau income decreasing ketika kinerja atau laba rendah (Healy, 1985; McNichols dan Wilson, 1988; Pourciau, 1993; Burgstahler dan Dichev, 1997) yang kesemuanya bertujuan untuk memaksimalkan penerimaan bonus (the bonus plan hypothesis). Metode akrual biasa digunakan dalam pola manajemen laba yang ditujukan untuk memaksimalkan bonus. Healy (1985) menemukan bukti bahwa manajer perusahaan dengan skema bonus berbasis laba bersih secara sistematis mengadopsi kebijakan akrual untuk memaksimalkan ekspektasi bonus mereka.
Mengingat bahwa skema bomus berdasarkan laba merupakan cara yang paling populer dalam memberikan penghargaan kepada eksekutif perusahaan, maka adalah logis bila manajer yang remunerasinya didasarkan pada tingkat laba akan memanipulasi laba tersebut untuk memaksimalkan penerimaan remunerasinya. Watts (1977) dan Watts dan Zimmerman (1978) menyatakan bahwa skema bonus menciptakan insentif bagi manajemen untuk meningkatkan present value dari penerimaan bonus mereka. Sedangkan Healy (1985), menemukan bukti bahwa manajer perusahaan dengan skema bonus berbasis laba bersih secara sistematis mengadopsi kebijakan akrual untuk memaksimalkan ekspektasi bonus mereka. Gao dkk (2002) membuktikan bahwa intensitas manajemen laba, yang diukur dengan nilai absolut dari akrual diskresioner saat ini, berhubungan dengan desain kontrak kompensasi dan hal tersebut sesuai dengan prediksi bahwa manajer bertindak oportunistik.
Karena besaran bonus bagi Direksi BUMN tergantung pada jumlah laba dibagi, maka direksi yang oportunis akan berusaha mencapai jumlah laba dibagi tertentu untuk dapat memaksimalkan penerimaan bonus mereka dengan melakukan manajemen laba.
Skema bonus bagi Direksi BUMN memasukkan budget standard dan prior year standard, dimana skema bonus didasarkan pada ukuran kinerja yang dibandingkan dengan budget tahunan dan pencapaian atas realisasi laba tahun sebelumnya. Sistem budget didasarkan pada premis bahwa manajer seharusnya diberikan penghargaan karena dapat mencapai target yang ditetapkan untuk periode tersebut dan memberi hukuman jika tidak mencapai target . Namun, sistem semacam ini mengandung insentif bagi manajer untuk menyusun target yang mudah dicapai dan ketika target telah ditetapkan, mereka akan melakukan apapun untuk memastikan bahwa target tersebut tercapai meskipun akan merugikan perusahaan. Manajer akan memainkan realisasi anggaran atau pencapaian target, yang biasanya dilakukan melalui aktivitas manajemen laba (Jensen, 2003).
Mengingat ukuran kinerja utama yang dijadikan dasar perhitungan bonus direksi BUMN adalah pencapaian laba, baik terhadap tahun lalu maupun anggarannya, maka dengan demikian dapat diduga bahwa insentif direksi untuk mencapai anggaran laba dan realiasi laba tahun sebelumnya tersebut berpengaruh terhadap aktivitas manajemen laba.
Mendasarkan standar kinerja terhadap budget atau kinerja tahun lalu memiliki implikasi yang hampir sama karena budget saat ini tentunya akan sangat tergantung pada sebagian besar kinerja tahun sebelumnya (Murphy, 1998). Sebagai badan usaha milik negara, BUMN seringkali dibebani oleh target-target yang terkait dengan pemenuhan keuangan negara seperti dividen dan pajak. Untuk kepentingan itu, biasanya pemegang saham BUMN akan menetapkan tingkat pertumbuhan laba tertentu yang harus dicapai oleh BUMN pada tahun yang akan datang. Target pertumbuhan laba tersebut akan diakomodasi pada saat penetapan anggaran perusahaan, sehingga angka anggaran laba biasanya akan ditetapkan lebih tinggi dari prognosa atau realisasi laba tahun sebelumnya.
Dengan angka anggaran laba yang lebih tinggi dari laba tahun lalu, maka akan lebih realistis bagi manajemen untuk mencapai realisasi laba tahun lalu daripada mencapai anggaran laba. Disamping itu, skema bonus direksi dan komisaris BUMN yang memberikan bobot lebih besar terhadap pencapaian laba tahun lalu dibandingkan pencapaian anggaran laba diduga akan mendorong direksi untuk lebih memfokuskan effortnya guna mencapai realisasi laba tahun lalu. Berdasarkan hal tersebut, dihipotesiskan bahwa tindakan manajemen laba yang dilakukan oleh direksi lebih dipengaruhi oleh motivasi untuk mencapai mencapai laba tahun sebelumnya daripada untuk mencapai anggaran laba.
Menurut Dempsey, Hunt, dan Schroeder (1993), ketika terdapat pemisahan antara manajemen dan pemilikan perusahaan, maka terdapat tingkat manajemen laba yang tinggi melalui pos luar biasa. Bartov (1993) melakukan penelitian tentang manajemen laba melalui pengakuan pendapatan dari asset disposal dan menemukan bukti bahwa perusahaan dengan laba yang rendah secara signifikan memiliki pendapatan dari hasil penjualan aset yang lebih besar. Black, Sellers dan Manly (1998) dan Peasnell (1998) menunjukkan bukti kuat terjadinya manajemen laba melalui asset disposal di negara Inggris.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: