h1

PENILAIAN KEPUTUSAN INVESTIGASI VARIAN: EFEK OUTCOMES DAN FRAMING

August 23, 2009

Keputusan Investigasi Varian
Biaya standar adalah biaya yang telah ditentukan sebelumnya untuk memproduksi satu unit atau sejumlah tertentu produk selama suatu periode tertentu (Carter dan Usry, 2002). Biaya standar dapat digunakan untuk: (1) menetapkan anggaran, (2) mengendalikan biaya dengan cara memotivasi karyawan dan mengukur efisiensi operasi, (3) menyederhanakan prosedur perhitungan biaya dan mempercepat laporan biaya, (4) membebankan biaya ke persediaan bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi, serta (5) menetapkan tawaran kontrak dan harga jual.
Secara umum, untuk memproduksi suatu produk dibutuhkan penetapan standar fisik dan standar harga dari tiga kelompok biaya: bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik. Keberhasilan penetapan standar biaya produksi ini bergantung pada keandalan, ketepatan dan penerimaan terhadap standar tersebut (Carter dan Usry, 2002). Setelah ditetapkan dan diimplementasikan, biaya standar akan dibandingkan dengan biaya aktual. Perbedaannya dianalisis dan diidentifikasikan sebagai varian biaya standar. Jika biaya aktual melebihi standar, maka variannya adalah tidak menguntungkan karena kelebihan tersebut berdampak tidak menguntungkan terhadap laba. Sebaliknya, jika biaya standar melebihi aktual, maka variannya adalah menguntungkan terhadap laba.
Penelitian yang diadopsi dari Lipe (1993) ini berfokus pada keputusan investigasi varian efisiensi tenaga kerja (labor efficiency variance, LEV). LEV dihitung pada akhir periode pelaporan (hari, minggu, atau bulan) dengan cara membandingkan jam aktual yang digunakan dengan jam standar yang diperbolehkan untuk produksi suatu produk, yang keduanya diukur dengan tarif tenaga kerja standar (Carter dan Usry, 2002; Hansen dan Mowen, 2005). Varian yang tidak menguntungkan (jam aktual lebih besar dari jam standar) menunjukkan ketidakefisienan tenaga kerja dalam mengerjakan suatu proyek atau proses produksi. Ketidakefisienan ini dapat terjadi karena berbagai faktor: kurangnya bahan baku, bahan baku yang bermasalah, pekerja yang tak berpengalaman, kerusakan atau keusangan mesin, perubahan metode produksi, perencanaan dan penjadwalan yang buruk, spesifikasi desain yang buruk, ketidakpuasan kerja, dan interupsi kerja (Carter dan Usry, 2002; Hansen dan Mowen, 2005). Varian ini merupakan suatu sinyal, suatu pertanyaan yang sebaiknya diinvestigasi untuk mengetahui penyebabnya.
Keputusan investigasi varian dan mengambil tindakan perbaikan memiliki biaya yang berhubungan dengannya (Hansen dan Mowen, 2005). Sebagai prinsip umum, suatu penyelidikan seharusnya dilakukan hanya jika manfaat yang diperkirakan lebih banyak daripada biayanya. Biaya yang diperkirakan manajer (decison maker, DM) dalam analisis varian meliputi: (1) investigation expenditure (IE) yang termasuk juga biaya dari waktu manajerial dan prosedur pengujian yang dikeluarkan; (2) biaya memperbaiki masalah dalam sistem (membuat sistem yang out-of-control kembali menjadi in-control); dan (3) biaya inkremental dari kegagalan memperbaiki sistem yang out-of-control atau bermasalah (Lipe, 1993). Dalam penelitian sekarang, manajer (DM) diasumsikan telah mengestimasikan IE, mempertimbangkan kemungkinan sistem out-of-control (berdasarkan data lampau, diskusi dengan teknisi, dan sebagainya) dan kemudian sampai pada keputusan investigasi varian.
Jika investigasi varian dilakukan, maka IE akan dikeluarkan dan hasil penyelidikan (outcomes) akan menunjukkan apakah sistem out-of-control (bermasalah) atau in-control (tidak bermasalah). Laporan biaya dan manfaat dari investigasi varian ini kemudian akan dipakai oleh manajemen atas untuk menganalisis kinerja DM yang bertanggungjawab atas varian biaya (dalam penelitian ini, LEV).

Dampak Outcomes dalam Pengambilan Keputusan
Outcome adalah nilai yang dilekatkan pada suatu aktivitas. Dalam penilaian kinerja, informasi tentang outcome mempunyai dua efek: (a) efek pada penilaian probabilitas timbulnya outcome yang kemudian mempengaruhi evaluasi, dan (b) efek langsung pada penilaian kualitas keputusan (Baron dan Hersey, 1988 dalam Ghosh, 2005). Meskipun umum (normatif) bagi manajemen untuk mengevaluasi keputusan bawahannya (DM) dengan menggunakan informasi outcome, akan tetapi analisis semua keputusan harus dapat memisahkan antara keputusan dan outcome.
Sehubungan dengan keputusan investigasi varian, keputusan DM yang dibuat ex ante (sebelum hasil investigasi diketahui) maka seharusnya DM dievaluasi berdasarkan informasi ex ante (Edwards, 1984 dan Fischhoff, 1983 dalam Lipe 1993) yaitu informasi yang saat itu dibagikan di antara DM dan penilai (manajemen atas). DM yang telah memilih alternatif dengan expected cost terendah untuk suatu manfaat tertentu semestinya telah dapat dinilai lebih baik. Outcome atau ex post information adalah hasil akhir dari serangkaian aktivitas yang mungkin tidak terkait dengan ex ante information karena outcome tersebut tidak dapat dikendalikan oleh DM. Jadi, hanya saat makin meningkatnya perceived controllability dari suatu ukuran outcome maka tanggungjawab yang tinggi dapat dilekatkan pada konsekuensi keputusan DM (Kelley dan Michela, 1980 dalam Ghosh, 2005).
Dalam hal keputusan investigasi varian, diduga penilai kinerja (manajer atas), selain mamakai expected cost, juga akan mempertimbangkan outcome investigasi (ex post information). Jika hasil investigasi berhasil menemukan suatu masalah dalam sistem maka keputusan DM akan dianggap tepat dan akan mengakibatkan pada lebih tingginya performance rating yang diberikan padanya dibandingkan jika hasil investigasi tidak berhasil menemukan suatu masalah dalam sistem.
Perhatian terhadap outcome bias dalam penilaian kinerja perlu diberikan, karena akan menimbulkan berbagai masalah motivasi kerja. Jika penilai kinerja menggunakan ex post information untuk merevisi keputusan awalnya (outcome bias) dan ternyata outcome tersebut banyak dipengaruhi oleh banyak hal diluar kendali DM maka DM akan mengalami ketidakadilan dan kemudian muncul demotivasi kerja. Oleh karena itu, manajemen atas (penilai kinerja DM) perlu mempertimbangkan pengaruh outcome saat mencoba menemukan the right balance antara akurasi informasi dan dampaknya pada motivasi (Simons, 2000).

Framing dalam Pengambilan Keputusan
Saat terdapat kondisi ketidakpastian, pembingkaian (framing) informasi dapat berdampak signifikan dalam pengambilan keputusan (Bazerman, 1994). Penelitian Bazerman (1983) dan Miller dan Fagley (1988) dalam Bazerman (1994) menemukan bahwa saat suatu masalah yang sama tetapi dibingkai dalam kondisi “perceived gain” dan “perceived loss” akan direspon berbeda oleh obyek penelitian (pengambil keputusan). Menurut Kahneman dan Tversky (1979), dalam teori prospect-nya, cara seseorang membingkai “masalah” secara dramatis dapat mengubah perceived neutral point dari suatu pertanyaan. Oleh karenanya pengambil keputusan cenderung menghindari risiko saat suatu outcome diekspresikan sebagai gains dan menghindari risiko saat suatu outcome diekspresikan sebagai losses.
Makin bervariasinya situasi ketidakpastian, framing suatu masalah dapat muncul dalam banyak bentuk. Kahneman dan Tversky (1979) dalam Lipe (1993) menyebutkan bahwa penggunaan psychological atau mental account untuk mengevaluasi atau mengambil keputusan juga merupakan bentuk framing. Penggunaan akun diskon misalnya, Mowen dan Mowen (1986) dalam Lipe (1993) menemukan bahwa pengambil keputusan cenderung mengejar diskon saat jumlah pesanan mereka kecil (dari sejumlah informasi size of bill).
Dalam hal investigasi varian, terdapat dua frame yang timbul atas biaya investigasi (IE) yaitu: IE sebagai a cost atau a loss. IE sebagai cost berarti IE merupakan pengeluaran, pengorbanan untuk memperoleh manfaat (Carter dan Usry, 2002). Sebaliknya, IE sebagai loss berarti IE merupakan pengeluaran yang tidak memperoleh manfaat. Suatu manfaat yang diperkirakan dari investigasi varian boleh jadi dipengaruhi oleh outcome investigasi. Pengaruh outcome terjadi saat ditemukannya sistem out-of-control (yang kemudian akan diperbaiki). Berdasarkan temuan tersebut, manajemen atas (penilai kinerja) cenderung menganggap investigasi bermanfaat. Sebaliknya, jika ditemukan sistem in-control, maka penilai kinerja cenderung menganggap investigasi tidak bermanfaat. Apabila investigasi dianggap bermanfaat maka IE akan dipertimbangkan sebagai cost, sebaliknya jika tidak bermanfaat maka IE akan dipertimbangkan sebagai loss.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: