h1

PENDEKATAN INTERAKSI DAN SISTEM UNTUK RISET KONTINJENSI DALAM AKUNTANSI MANAJEMEN

August 23, 2009

Sejauh ini, kritikan terhadap riset kontinjensi lebih banyak diarahkan dalam desain framework kontinjensi, terutama pada aspek metode pengujian. Drazin dan Van de Ven (1985) mengajukan tiga pendekatan pentig dalam riset kontinjensi, meliputi: seleksi, interaksi dan sistem. Kenyataan bahwa dalam pendekatan seleksi dan interaksi memunculkan sejumlah kelemahan baik dalam konsep maupun konsekwensi hasil, arah metode pendekatan kemudian difokuskan terhadap pendekatan sistem.
Mengacu pada fakta empirik dan latar belakang penelitian yang telah disebutkan di atas, masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Diantara pendekatan interaksi dan sistem dalam uji fit, diprediksikan terdapat satu pendekatan terbaik dari sudut pandang metodologis dan teoritis.
2. Secara teoritis, perlu diuji pengaruh hubungan multidimensional antara variabel OCS, MCS dan SP dengan variabel PEU, terhadap kinerja perusahaan.
Lebih jauh, berdasarkan latar belakang serta rumusan masalah yang telah dikemukakan, secara garis besar penelitian ini memiliki dua tujuan utama:
1. Tujuan metodologis. Dari aspek metodologi penelitian, penelitian ini hendak menguji dan mengevaluasi penggunaan pendekatan uji fit dalam riset-riset kontinjensi. Sesuai dengan kerangka konsep yang diajukan oleh Drazin dan Van de Ven (1985), pendekatan uji fit yang hendak dianalisis meliputi konsep multiple regression dan resydual analysis dalam pendekatan interaksi, dan konsep distance dalam pendekatan sistem.
2. Tujuan teoritis. Dari aspek teoritis mengenai konsep kontinjensi, penelitian ini hendak menguji hubungan antara variabel kontekstual dengan variabel organisasional dan implikasinya terhadap kinerja keuangan organisasi.
3. TELAAH PUSTAKA DAN PENELITIAN TERDAHULU
Perspektif Kontinjensi
Sistem kontrol didefiniskan sebagai semua prosedur dan sistem formal yang menggunakan informasi untuk menjaga atau mengubah pola aktivitas perusahaan (Simons, 1987). Dalam studi-studi yang ada, sistem kontrol dinyatakan dapat mempengaruhi pencapaian kinerja dengan melibatkan variabel kontinjensi, seperti PEU. Lebih jauh, Otley (1980) memandang pentingnya perspektif kontinjensi dalam riset-riset akuntansi. Otley (1980) menunjukkan adanya dampak penggunaan pendekatan kontinjensi dalam menjelaskan hasil-hasil riset sistem kontrol yang berbeda-beda.
Pada awal perkembangan teori kontinjensi, framework kontinjensi dipandang sebagai model linier hubungan antara desain struktur organisasi dengan sistem kontrol organisasi. Model ini dikritisi oleh Otley (1980) dengan mengemukakan gagasan framework kontinjensi minimal (minimum necesary contigency framework). Pada model yang diperkenalkan Otley ini, sistem kontrol tidak dipandang sebagai konsekwensi logis dari kebijakan desain struktur organisasi, melainkan sebagai bagian integral dari paket pengendalian organisasi dan sejajar dengan desain struktur organisasi yang diterapkan.
Pendekatan Multiple Interaction
Terdapat tiga pendekatan dalam kosep fit sebagaimana dikemukakan oleh Drazin dan Van de Ven (1985), yang meliputi seleksi, interaksi dan sistem. Tabel 1 pada lampiran 2 menunjukkan ketiga konsep fit yang diajukan oleh Drazin dan Van de Ven (1985).
Pendekatan seleksi menghubungkan antara variabel kontekstual dengan variabel organisasional, namun tidak secara jelas mengkorelasikan hubungan kedua variabel tersebut dengan kinerja organisasi. Pendekatan multiple interaction memandang bahwa pengaruh fit antara variabel kontekstual dengan variabel organisasional diekspresikan dengan bentuk perkalian antara variabel kontekstual dengan variabel organisasional dalam model regresi. Koefisien signifikansi dari order tertinggi dari interaksi dalam persamaan regresi menunjukkan adanya dukungan terhadap hipotesis yang dikembangkan.
Pendekatan Residual Analysis
Pendekatan residual analysis mengacu pada konsep nilai residual dari persamaan regresi. Dalam pendekatan ini, residual diasumsikan sebagai unfit dari persamaan regresi. Terdapat tiga tahap dalam uji ini. Tahap pertama adalah penentuan desain hubungan variabel organisasional dengan kontekstual. Dalam hal ini, sistem kontrol didesain sebagai variabel dependen dan PEU sebagai variabel indepeden.
Pendekatan Sistem: konsep Distance

Pendekatan seleksi dan interaksi dalam fit memfokuskan pada bagaimana faktor tunggal dari variabel kontekstual berpengaruh terhadap faktor-faktor organisasional dan bagaimana pasangan variabel kontekstual-organisasional tersebut berinteraksi dalam mempengaruhi kinerja. Oleh kalangan reductionism, cara ini dipandang sebagai dekomposisi dari variabel-variabel organisasional dan kontekstual yang secara efektif dapat menjelaskan hubungan keseluruhan organisasi.
Pandangan kalangan reductionism tersebut ditentang oleh Miller (1981) dan Drazin dan Van de Ven (1985) dengan menyatakan bahwa pemahaman hubungan variabel kontekstual-organisasional hanya dapat dilihat secara simultan dalam aspek-aspek kontinjensi dan alternatif struktural (organisasional) serta kriteria kinerja yang secara holistik dapat digunakan untuk memahami desain organisasi. Oleh karena itu model tersebut harus sistemik, yang dikenal sebagai pendekatan sistem.
Pendekatan sistem menekankan pada adopsi multivariate untuk menguji pola konsistensi diantara dimensi organisasional, kontekstual dan kinerja. Hubungan multidimensional variabel kontekstual dan organisasional harus konsisten dalam seperangkat sistem guna menunjang pencapaian kinerja. Jika model tersebut digambarkan dalam dua dimensi variabel, akan tampak seperti pada gambar 1 (Lampiran1).
Terdapat tiga langkah dalam uji fit dengan pendekatan sistem. Pertama, pengembangan tipe ideal dari variabel kontekstual dan organisasional. Tipe ideal merupakan semua bentuk kombinasi ideal yang mungkin antara variabel kontekstual dengan variabel organisasional dalam kerangka mencapai kinerja yang tinggi. Berdasar pada gambar 4, semakin dekat jarak perusahaan dengan tipe ideal maka semakin tinggi kinerjanya. Dengan kata lain, semakin jauh jarak (deviasi) perusahaan dengan tipe ideal maka semakin kecil kinerja yang dapat dicapai.
Tahap kedua adalah menghitung nilai distance dari skor unfit tersebut dengan menggunakan pengukuran Euclidean distance (Drazin dan Van de Ven, 1985). Skor unfit merupakan jumlah dari deviasi setiap skor variabel kontekstual dan organisasional dari skor tipe ideal. Rumus yang digunakan untuk menghitung distance tersebut seperti ditunjukkan dalam persamaan (6). Tahap ketiga pada pendekatan sistem adalah mengkorelasikan atau meregreskan nilai distance yang diperoleh dengan variabel kinerja.
Ketidakpastian Lingkungan Yang Dipersepsikan, Sistem Kontrol dan Kinerja Keuangan

PEU didefiniskan sebagai kondisi lingkungan eksternal yang dapat mempengaruhi operasional perusahaan (Otley, 1980). Dalam penelitiannya, Burns dan Stalker (dalam Gudono, 1999) mengidentifikasi tipe struktur dan praktik manajemen yang tepat untuk berbagai kondisi lingkungan yang berbeda.
Ketidakpastian merupakan rasa ketidakmampuan individu dalam memprediksi sesuatu secara tepat (Gudono, 1999) dan persepsi ketidakpastian lingkungan (PEU) didefinisikan sebagai persepsi individual atas ketidakpastian yang berasal dari lingkungan (Gregson et al, 1994). Pada dasarnya, PEU merupakan ketidakmampuan persepsi manajemen top dalam memprediksi lingkungan eksternal organisasi secara tepat (Milliken, 1987). Gul dan Chia (1994) menyimpulkan bahwa PEU lebih merupakan persepsi manajemen terhadap envirotmental uncertainty daripada environtmental uncertainty itu sendiri.
Riset-riset akuntansi manajemen telah banyak mengaplikasi teori kontinjensi dalam studi tentang desain sistem informasi manajemen dan kinerja (Chenall dan Moris, 1986; Gul, 1991). Secara khusus, studi-studi tersebut memfokuskan pada hubungan antara aspek-aspek variabel kontekstual (seperti PEU), karakteristik sistem informasi manajemen dan kinerja. Sistim informasi manajemen dalam hal ini dipandang sebagai subsistem kontrol yang berpengaruh terhadap kinerja. Dengan konsep teori kontinjensi, fit antara PEU yang tinggi dan cakupan sistem informasi yang luas akan berpengaruh terhadap kinerja dibanding fit antara sistem informasi yang luas dengan PEU yang rendah (misfit) (Gordon dan Narayanan, 1984). Hal demikian merupakan pandangan teori kontinjensi yang manyatakan bahwa kapasitas informasi atau sistem kontrol (seperti OCS, MCS dan SP) harus sesuai dengan kondisi ketidakpastian yang dihadapi perusahaan (Gerloff dalam Gul dan Chia, 1994). Melalui penyesuaian kapasitas dengan lingkungan, organisasi akan mampu meningkatkan kinerja. Dengan kata lain, jika ketidakpastian lingkungan meningkat, maka tingkat keluasan penggunaan sistem kontrol juga diharapkan meningkat untuk mendorong pencapaian kinerja yang tinggi.
Sejauh ini, dinyatakan bahwa fit antara sistem kontrol dengan PEU dapat meningkatkan kinerja perusahaan (Merchant, 1981; Gul dan Chia, 1994; Gul, 1991; Chenall dan Moris, 1986; Gordon dan Narayanan, 1984; Gerloff dalam Gul dan Chia, 1994). Namun, riset-riset yang dilakukan selama ini kurang memandang pada aspek keterlibatan variabel sistem kontrol secara luas, misalnya penggunaan sistem kontrol pada level operasional (OCS), manajerial (MCS) dan perencanaan strategi (SP).
OCS sendiri merupakan subsistem kontrol akuntansi pada tataran operasional. Pada level ini, aktivitas yang terpgrogram digunakan dan diaplikasikan secara sempit. OCS lebih cocok diterapkan pada pola aktivitas yang menunjukkan hubungan input-output, dan judgment memegang peranan yang relatif kecil (Veliyath, etal, 1997).
Pada sisi lain, MCS dimaksudkan sebagai kontrol terhadap penemuan dan penggunaan sumber-sumber pencapaian tujuan perusahaan secara efektif. MCS menekankan pada program dan pusat pertanggungjawaban serta berkaitan dengan aktivitas dimana hubungan input-output sulit ditentukan. MCS merupakan integrasi, koordinasi dan memiliki banyak aplikasi dibanding OCS. Aplikasi judgment managerial lebih banyak digunakan pada level ini.
Sementara itu, perencanaan strategi (strategic planning) memfokuskan pada tujuan, perubahan tujuan, sumber-sumber untuk mencapai tujuan serta kebijakan usaha dan pemerintah yang berlaku. SP diformulasikan dalam jangka panjang berkaitan dengan strategi. Esensi dasar dari SP adalah monitoring dan pencapaian informasi yang berkaitan dengan lingkungan eksternal (Veliyath, et al, 1997).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: