h1

ESKALASI KOMITMEN DALAM KEPUTUSAN INVESTASI : DAMPAK DARI PENGALAMAN KERJA

August 22, 2009

Brockner (1992) dalam suatu sintesis atas literatur-literatur sebelumnya, menyatakan bahwa “eskalasi komitmen tampaknya adalah hasil dari sejumlah faktor dan proses”. Sedangkan Bazerman (1994) mengkategorikan penyebab atau determinan eskalasi itu dapat dibagi oleh sebab bias perseptual, bias judgmental, manajemen impresi dan irasionalitas yang kompetitif. Kategori lain determinan eskalasi menurut Staw dan Ross (1986) adalah sifat proyek itu sendiri, variabel psikologis, sosial dan organisasional. Beberapa penelitian kemudian menggunakan kerangka teori agensi (Harrison dan Harell, 1993; Harrell dan Harrison, 1994; Goedono dan Sami, 2003) dan teori prospek (Whyte, 1986; Rutledge dan Harrell, 1993) dalam mengidentifikasi faktor dan proses yang menjelaskan perilaku eskalasi ini.
Rerangka yang menggunakan teori prospek (Bazerman, 1984; Kahneman dan Tversky, 1979) memusatkan analisisnya pada bagaimana informasi disajikan dan pemprosesan kognitifnya. Whyte (1986) mengusulkan bahwa eskalasi komitmen dapat diterangkan oleh fungsi nilai menurut teori prospek. Dalam teori prospek, tiap keputusan dibuat setelah informasi terlebih dahulu disaring melalui ‘decision frame’ atau ‘bingkai keputusan’ oleh pengambil keputusan atau “konsepsi atas tindakan, hasil dan kontinjensi yang berkaitan dengan pilihan tertentu” (Kahneman dan Tversky, 1979). Konsekuensi dari pembingkaian ini adalah pilihan berisiko, bila diproses melalui fungsi nilai yang cekung pada keadaan untung (perceived gain) dan cembung pada kondisi rugi (perceived loss), menghasilkan perilaku mencari risiko (risk-seeking) pada hasil rugi dan penghindaran risiko (risk-averse) pada hasil yang untung.
Dalam konteks keputusan investasi, seorang pengambil keputusan yang menerima umpan balik negatif atas keputusan investasi sebelumnya akan berada pada posisi atau kondisi rugi, dan akan memandang keputusan berikutnya sebagai pilihan antara kerugian pasti yang telah terjadi (yaitu memilih untuk tidak melanjutkan tindakan menambah investasi) dengan kerugian di masa mendatang yang kurang pasti (yaitu mengambil risiko menambah dana dengan harapan mendapat pengembalian positif). Dalam keadaan ini, pengambil keputusan cenderung untuk mencari risiko, memilih kerugian yang tidak pasti yang memberikan harapan perbaikan (komitmen tambahan dana) dibandingkan kerugian yang pasti. Sebaliknya jika informasi disajikan dengan bingkai keputusan positif, pengambil keputusan diperhadapkan pada pilihan antara untung yang pasti (pengembalian investasi yang semula) dengan keuntungan di masa mendatang yang tidak pasti. Dalam keadaan ini, pengambil keputusan akan cenderung menghindari risiko dengan mengambil keuntungan yang pasti daripada menghadapi risiko keuntungan yang tidak pasti, dengan tidak melanjutkan proyek (Bateman dan Zeithaml, 1989; White, 1986).
Pada sebuah eksperimen yang menggunakan mahasiswa S1, Whyte (1993) menunjukkan bahwa adanya sunk cost akan meningkatkan kecenderungan eskalasi, dan Rutledge dan Harrell (1993) dan Rutledge (1995) yang menggunakan mahasiswa program MBA eksekutif, menunjukkan pembingkaian negatif atas hasil keputusan juga meningkatkan eskalasi. Kedua hasil itu konsisten dengan teori prospek. Dalam upaya membandingkan teori agensi dan teori prospek dalam menerangkan eskalasi komitmen dalam setting lintas budaya, Sharp dan Salter (1997) menemukan bahwa teori agensi tidak mempunyai explanatory power pada budaya yang kurang individualistik dibanding Amerika Serikat, sedangkan teori prospek secara umum berlaku di semua budaya yang ditelitinya. Namun hasil penelitian Schoorman et al. (1994) mendapatkan hasil tidak ada efek pembingkaian keputusan berdampak terhadap eskalasi komitmen pada subyek yang mereka teliti.
Dari tinjauan atas penelitian-penelitian di atas, dirasakan perlu adanya penyelidikan tambahan karena perbedaan-perbedaan tertentu pada karakteristik subyek bisa membuat perbedaan hasil. Penelitian-penelitian yang disebut di atas pada umumnya mengambil subyek yang mempunyai karakteristik demografi subyek yang homogen, sehingga tidak diketahui bagaimana pengalaman kerja yang berbeda berdampak terhadap perilaku eskalasi. Studi oleh Chang dan Ho (2004) mendapatkan bahwa ada perbedaan antara tendensi melanjutkan proyek (eskalasi) antara manajer yang mempunyai pengalaman perencanaan dan evaluasi proyek dengan mahasiswa S1 bisnis. Manajer yang berpengalaman mempunyai tendensi bereskalasi yang lebih besar dibandingkan mahasiswa. Sebaliknya, para mahasiswa kurang sensitif terhadap informasi kontekstual. Atas dasar ini, Chang dan Ho (2004) berargumen bahwa mahasiswa bukanlah surogasi yang tepat bagi manajer dalam tugas pengambilan keputusan tertentu.
Ada beberapa penyebab mengapa pengalaman kerja dapat mendorong tendensi bereskalasi dalam pengambilan keputusan keuangan. Pertama, lingkungan sosial pekerjaan menuntut pribadi-pribadi pengambil keputusan berada pada posisi untuk berusaha menjustifikasikan keputusan mereka. Justifikasi ini bisa berupa justifikasi internal maupun eksternal (Staw, 1981). Dalam justifikasi internal, menurut Staw, para pribadi berusaha menjalankan atau melakukan cara-cara yang melindungi citra diri mereka, sedangkan dalam upaya justifikasi eksternal, para pribadi berhadapan dengan ancaman atau evaluasi dari pihak eksternal dirinya sehingga termotivasi untuk membuktikan kepada pihak lain bahwa mereka tidak salah pada keputusan sebelumnya. Justifikasi eksternal ini pada dasarnya sama dengan yang disebut oleh Bazerman (1994) sebagai manajemen impresi, yaitu motivasi manajer untuk memanipulasi persepsi pihak lain mengenai kinerja mereka. Hal ini dilakukan untuk menjaga reputasi mereka.
Sumber kedua eskalasi komitmen menurut Staw (1981) adalah norma konsistensi dalam pengambilan keputusan. Teori awam yang dianut masyarakat luas adalah pemimpin yang bersikap konsisten dalam tindakan mereka lebih baik daripada pemimpin yang berubah-ubah dalam keputusannya. Persepsi ini diperoleh dari sosialisasi dalam lingkungan organisasi baik dalam peran dunia bisnis maupun pemerintahan. Para pribadi melalui tahun demi tahun pengalaman kerja mereka turut meninternalisasikan norma konsistensi ini dalam pengambilan keputusan mereka.
Sumber ketiga eskalasi adalah pengalaman kerja mempunyai peran dalam sejauh mana perilaku berorientasi konservatif/negatif diperlihatkan. Menurut Anderson dan Maletta (1994) semakin berpengalaman atau familiar para pribadi dengan tugas yang dikerjakan maka para pribadi itu semakin berani menghadapi risiko dalam pengambilan keputusan. Para pribadi yang kurang familiar dengan tugas keputusan yang mengandung risiko umumnya berperilaku konservatif yaitu lebih berhati-hati dan menghindari risiko daripada mereka yang lebih familiar dengan tugas itu. Dalam konteks pengauditan, studi Anderson dan Maletta (1994) menunjukkan para auditor yang kurang berpengalaman bila dibandingkan auditor yang lebih berpengalaman terlalu berfokus pada bukti-bukti atau informasi negatif dan lebih semakin negatif juga pertimbangan audit yang mereka buat. Pemikiran yang sama juga berlaku untuk pengambil keputusan dalam konteks bisnis, yaitu mereka yang berpengalaman lebih berani mengambil risiko dibandingkan mereka yang tidak berpengalaman.
Dalam konteks pengambilan keputusan di bawah ketidakpastian, para pengambil keputusan yang mempunyai pengalaman kerja substansial, oleh sebab justifikasi, norma konsistensi dan keberanian terhadap risiko yang lebih besar, cenderung lebih berani meneruskan proyek yang menunjukkan kinerja negatif atau bereskalasi daripada mereka yang tidak berpengalaman. Hal ini tetap terjadi meskipun informasi disajikan baik dalam bingkai atau frame keputusan positif maupun negatif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: