h1

DETERMINAN IMPLEMENTASI SISTEM AKUNTANSI MANAJEMEN INOVATIF

August 22, 2009

Desentralisasi, Adaptabilitas Sub-unit dan Akseptansi Akuntansi Inovatif.
Desentralisasi menyediakan manajer sub-unit otoritas untuk melakukan tindakan yang akan mempengaruhi adaptabilitas sub-unit. Contoh, jika manajer sub-unit diberikan hak keputusan untuk mengatasi kondisi-kondisi yang berhubungan dengan pekerja dan manajemen pekerja, maka mereka akan mampu menciptakan budaya sub-unit yang kondusif. Namun, jika hak keputusan tidak didelegasikan kepada manajer sub-unit maka sub-unit akan kesulitan menciptakan atau membawa budaya kondusif tersebut. Ketidakmampuan membawa budaya kondusif dalam sub-unit dapat menyebabkan penolakan (resistensi) terhadap sistem akuntansi manajemen inovatif.
Perubahan sistem akuntansi membawa informasi-informasi baru baik bagi atasan maupun bawahan. Oleh karena itu atasan sering menggunakan informasi dari sistem akuntansi manajemen untuk menilai dan me-reward (memberikan imbalanan) atas kinerja bawahan (Zimmerman, 2003). Sebaliknya, manajer sub-unit diekspektasi mengakui nilai dari informasi baru, mengasimilasinya dan mengaplikasikan dalam sub-unit tersebut (Cohen dan Levinthal, 1990). Jika mereka mampu menggunakan informasi untuk mencapai kinerjanya maka akan seimbang dengan kompensasi dan atau prospek promosi yang akan diterimanya. Kemampuan menggunakan informasi baru tergantung kapasitas serapan (absortive capacity) (Cohen dan Lavinthal, 1990) yang dipengaruhi kemampuan dan keinginan manajer sub-unit untuk menggunakan informasi dalam adaptasi di sub-unitnya. Dibutuhkan kemampuan manajer sub-unit dalam memberdaya ulang asset-asset (baik tenaga kerja maupun modal) dalam merespons informasi baru tersebut. Tipe kemampuadaptabilitas ini termasuk kemampuan sub-unit mendapatkan dana investasi untuk membeli tekhnologi yang diinginkannya maupun keinginan individual bekerja dalam sub-unit agar prilakunya sesuai dengan perubahan tertentu (Scott dan Bruce, 1994; Tsai, 2001) kemampuan manajer sub-unit menerapkan perubahan dalam merespons informasi baru dibatasi oleh dua kondisi diatas yang harus dipenuhi (Bolton, dan Dewatripont, 1994).
Sehingga model prediksi penelitian ini adalah bahwa desentralisasi akan memiliki dampak positif terhadap adaptabilitas sub-unit. Adaptabilitas ini menyebabkan manajer sub-unit meresposns sinyal yang disediakan oleh sistem akuntansi manajemen dengan efisien dan efektif. Pada akhirnya akan membuat mereka lebih menerima (receptif) atas sistem akuntansi manajemen inovatif. Lantas penelitian ini juga menduga bahwa hubungan antara desentralisasi dan akseptansi sistem akuntansi manajemen operasional melalui kemampuadaptabilitas sub-unit.

Desentralisasi, Pengaruh Pengguna dan Akseptansi Akuntansi Inovatif.
Destrasilasi juga akan berpengaruh dimana manajer sub-unit terlibat didalam desain sistem akuntansi manajemen inovatif. Ketika pengambilan keputusan adalah sentralisasi, maka manajer level bawah tidak memiliki otoritas yang memadai untuk mempengaruhi desain sistem akuntansi manajemen. Hal ini mempengaruhi pengguna terhadap sistem yang diterapkan, oleh karena itu dapat diprediksi bahwa manajer sub-unit resisten terhadap sistem akuntansi manajemen inovatif. Terdapat dua alasan atas ekspektasi ini:
Pertama, pengakuan yang jelas dalam literatur sistem informasi manajemen bahwa sistem seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan pengguna (user) (misal Kirs et al, 2001).Sementara itu terbatas sekali penelitan akuntansi yang menguji hubungan antara pengaruh dan sikap pengguna terhadap sistem akuntansi manajemen inovatif. Penelitian ini menduga bahwa keterlibatan dalam desain dan implementasi sistem akuntansi manajemen akan meningkatkan suatu sistem yang disesuaikan dengan kebutuhan penggunanya (para manajer sub-unit). Hal ini akan memiliki payoff dimana desain sistem akuntansi manajemen akan mengurangi ex ante ketidakpastian dan meningkatkan (improve) pengambilan keputusan (Gilbraith, 1973; Bouwens dan Abernethy, 2000).
Kedua, desain sistem akuntansi manajemen (yang melibatkan user) juga memiliki potensi menurunkan kesalahan pengukuran (measurement error) dari sistem ketika sistem digunakan untuk menilai kinerja. Oleh karena itu hal ini memungkinkan norma-norma kinerja yang disusun (setting) akan sesuai dengan norma-norma kinerja yangsesungguhnya (Hofstede, 1967). Desain sistem akuntansi manajemen (yang melibatkan user) juga dapat mengurangi ketidakpastian manajer sub-unit berkaitan dengan kinerja (performance outcomes) sehingga meningkatkan komitmen terhadap sistem (Brownell, 1982; Hartwick dan Barki, 1994; McGowan dan Klammer, 1997).
Oleh karena itu penelitian ini menduga bahwa desentraliasi akan memiliki dampak positif dengan keterlibatan manajer dalam desain dan implementasi sistem akuntansi manajemen inovatif dan oleh karena itu keterlibatan akan berdampak positif terhadap akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif.

Konsekuensi Akseptansi Sistem Akuntansi Manajemen Inovatif.
Ara peneliti saat ini banyak memberikan perhatian pada konsekuensi outcome organisasi terhadap sistem akuntansi manajmen model prilaku. Penelitian ini menduga bahwa terdapat konsekuensi positif ketika manajer menerima perubahan perubahan sistem akuntansi manajemen, Oleh karena itu:
Pertama, penelitian ini menguji dampak penerimaan (akseptansi) sistem akuntansi manajemen terhadap kepuasan pengguna atas informasi yang tersedia, hal ini dapat merupakan efek langsung atas akseptansi tersebut.
Kedua, penelitian ini ingin menguji apakah akseptansi dari sistem berdampak terhadap keseluruhan kinerja sub-unit. Berdasar penelitian sebelumnya (Hunton, 1996; Hunton dan Rice, 1997) penelitian ini menduga bahwa jika sistem akuntansi manajemen (SAM) diterima (aksep) oleh user, maka kinerja perusahaan akan meningkat. Hunton (1996) dalam penelitiannya menggunakan metode eksperimen menemukan hubungan positif antara partisipasi dalam desain sistem informasi dengan (a) penggunaan sistem informasi manajemen, (b) kepuasan terhadap sistem informasi manajemen, (c) Output (performance dari subjek eksperimennya.
Penelitian ini juga menguji hubungan antara akseptansi sistem akuntansi manajemen dan kinerja (performance) melalui kepuasan pengguna. Hal ini didukung oleh penelitian Hunton dan Price (1997) yang menemukan dampak kinerja (performance) ditimbulkan via kepuasan pengguna dalam sistem informasi manajemen. Demikian pula Igbaria dan Tan (1997) yang menemukan bahwa kepuasan pengguna dan tekhnologi informasi memiliki dampak langsung yang kuat terhadap kinerja (performance). Oleh karena itu penelitian ini menduga bahwa terdapat dampak yang sama ketika manajer menerima (aksep) perubahan dalam sistem akuntansi manajemen. Semakin besar akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif oleh manajer maka akan semakin besar pula kepuasan terhadap sistem tersebut. Kepuasan sistem juga menimbulkan peningkatan kinerja melalui manfaat yang diperoleh dari informasi yangdisediakan user.
Oleh karena itu penelitian ini menguji apakah terdapat hubungan langsung akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif terhadap kinerja dan apakah akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif memiliki dampak positif terhadap kinerja melalui kepuasan pengguna. Penelitian ini menduga bahwa akseptansi sistem akuntansi manajemen akan memiliki dampak positif terhadap kepuasan dan kepuasan berdampak pada kinerja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: