h1

Modal Intelektual (Intelectual Capital)

August 16, 2009

Modal Intelektual (Intelectual Capital)

Menurut Abidin (2000), modal intelektual masih belum dikenal secara luas di Indonesia. Sampai dengan saat ini, perusahaan-perusahaan di Indonesia cenderung menggunakan conventional based dalam membangun bisnisnya sehingga produk yang dihasilkannya masih miskin kandungan teknologi. Di samping itu, perusahaan-perusahaan tersebut belum memberikan perhatian lebih terhadap human capital, structural capital, dan customer capital. Padahal, semua ini merupakan elemen pembangun modal intelektual perusahaan. Kesimpulan ini dapat diambil karena minimnya informasi tentang modal intelektual di Indonesia. Selanjutnya, Abidin (2000) menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan di Indonesia akan dapat bersaing apabila menggunakan keunggulan kompetitif yang diperoleh melalui inovasi-inovasi kreatif yang dihasilkan oleh modal intelektual perusahaan. Hal ini akan mendorong terciptanya produk-produk yang semakin favourable di mata konsumen.
Modal intelektual telah menjadi aset yang sangat bernilai dalam dunia bisnis modern. Hal ini menimbulkan tantangan bagi para akuntan untuk mengidentifikasi, mengukur dan mengungkapkannnya dalam laporan keuangan.
Selain itu, penelitian mengenai modal intelektual dapat membantu Bapepam dan Ikatan Akuntan Indonesia menciptakan standar yang lebih baik dalam pengungkapan modal intelektual.
Konsep modal intelektual telah mendapatkan perhatian besar oleh berbagai kalangan terutama para akuntan dan akademisi. Fenomena ini menuntut mereka untuk mencari informasi yang lebih rinci mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pengelolaan modal intelektual. Mulai dari cara pengidentifikasian, pengukuran sampai dengan pengungkapan IC dalam laporan keuangan perusahaan.
Haanes dan Lowendahl (1997) dalam Hong (2007) mengklasifikasikan IC sebuah perusahaan menjadi sumber kompetensi dan hubungan. Model Lowendahl (1997) dalam Hong (2007) menghaluskan model sebelumnya dan membagi kategori kompetensi dan hubungan menjadi dua subkelompok yaitu individual dan kolektif. Stewart (1997) mengklasifikasikan IC menjadi tiga bentuk dasar menjadi modal manusia, modal struktural dan modal pelanggan.
The Danish Confederation of Trade Unions (1999) dalam Hong (2007) mengelompokkan IC menjadi orang, sistem dan pasar. The European Commission (MERITUM, 2001 dalam Hong, 2007) mengelompokkan IC menjadi modal manusia, modal struktural dan modal hubungan. Leliaert et al (2003) mengembangkan the 4-Leaf model yang mengklasifikasikan IC menjadi modal manusia, pelanggan, struktural dan modal aliansi strategis. Selain itu, metode mengukur IC dapat dikelompokkan secara garis besar menjadi dua kategori, yaitu: IC yang tidak menggunakan sebuah penilaian moneter dan IC yang menaksir nilai moneter. Kelompok yang terakhir tidak hanya mencoba metode yang mengestimasi nilai rupiah dari IC, tetapi juga metode yang menggunakan nilai moneter melalui penggunaan rasio keuangan.
Hong (2007) menyatakan sebuah daftar kunci ukuran yang akan ditunjukkan sebagai berikut: The Balance Scorecard dikembangkan oleh Kaplan dan Norton, Brooking’s Technology Broker method, The Edvinssion dan Malone Skandia IC Report method, The IC-Index dikembangkan oleh Ross, dkk, Sveiby’s Intangible Asset Monitor Approach, The Heuristic Frame dikembangkan oleh Joia (2000), Vanderkaay’s Vital Sign Scorecard; dan Model Ernst & Young.
Penilaian dolar kunci dari model IC, yaitu model EVA dan MVA, model Market to Book Value, metode Tobin’s q; model Pulic VAIC™; Calculated intangible value dan The Knowledge Capital Earnings Model. Sedangkan metode lain dari badan akuntansi dan praktisi adalah: Human Resource Costing & Accounting (Johanson dan Grojer, 1998), Accounting for The Future (Nash, 1998), Total Value Creation, dan The Value Explorer™ dan Weigthless Weights (Andriessen, 2001).
Teknik mengukur IC masih terus berkembang dan peneliti mencoba mengaplikasikan konsep keunggulan kompetitif. Model klasifikasi dan pengukuran yang dilakukan di penelitian ini menggunakan model Pulic. Bontis (1998) menyatakan bahwa IC sangat penting dalam meningkatkan kemampuan organisasi dan penelitian tersebut bertujuan untuk mengembangkan model dan pengukuran IC. Penelitian tersebut juga menggunakan kuesioner dalam pengumpulan data. Bontis (2000) juga menyatakan bahwa IC berpengaruh positif dengan kinerja perusahaan di Malaysia tanpa memperhatikan jenis industrinya.
Hidayat (2000) menyatakan bahwa orang di Indonesia hanya memberikan sedikit perhatian terhadap modal intelektual karena mereka tidak bisa melihat manfaat daya pikir dalam balas jasa investasi mereka. Joia (2000) menyatakan bahwa aktiva tak berwujud perusahaan berhubungan dengan strategi perusahaan. Aktiva tak berwujud itu berupa modal intelektual yang ada di perusahaaan tersebut.
Petty (2000) menyatakan bahwa pentingnya teori dan kontribusi empiris yang berhubungan dengan pengukuran dan pelaporan IC (studi pustaka). Sugeng (2000) menyatakan bahwa modal intelektual digunakan untuk mengurangi tuntutan kerja karyawan dan meningkatkan kemampuan karyawan (studi pustaka).
Sawarjuwono (2003) menyatakan bahwa metode pengukuran IC dikelompokan menjadi dua kelompok yaitu: pengukuran nonmonetary dan pengukuran monetary. Dari model-model pengukuran yang dikembangkan, masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan sehingga untuk memilih model yang paling tepat untuk digunakan merupakan tindakan yang tidak tepat karena pengukuran tersebut hanyalah sebuah alat yang dapat diterapkan pada situasi dan kondisi perusahaan dengan spesifikasi tertentu.
Astuti (2005) menunjukkan bahwa human capital akan memiliki hubungan yang lebih kuat dengan structural capital jika hubungan tersebut bersifat langsung daripada hubungan tersebut tidak bersifat tidak langsung dengan customer capital sebagai variabel intervening. Di samping itu, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa customer capital dan structural capital dapat berfungsi sebagai variabel intervening hubungan human capital dan business performance, sedangkan structural capital dapat digunakan untuk memediasi hubungan customer capital dan business performance.
Ekawati (2005) menyatakan bahwa memaksimalkan tingkat pertumbuhan tidak memaksimalkan profitabilitas akuntansi dan nilai perusahaan. Penelitian tersebut dilakukan pada 493 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Abdolmohammadi (2005) menyatakan bahwa ada hubungan positif antara pengungkapan IC dengan market capitalization pada 53 perusahaan Fortune 500. Hal ini akan menghasilkan manfaat bagi perusahaan jika perusahaan melakukannya. Meskipun, manfaat tersebut dibandingkan dengan akumulasi biaya untuk menyediakan informasi tersebut.
Purnomosidhi (2006) menyatakan bahwa praktik pengungkapan IC dalam laporan tahunan berdasarkan hasil content analysis terhadap laporan tahunan dapat disimpulkan rerata jumlah atribut IC yang diungkapkan dalam laporan tahunan sebanyak 14 atribut (56 persen). Meskipun, praktik pengungkapan IC di antara perusahaan sangat bervariasi. Persentase ini menggambarkan bahwa perusahaan go public sudah memiliki kesadaran terhadap arti pentingnya IC bagi peningkatan keunggulan kompetitif. Hong (2007) menyatakan bahwa ada pengaruh modal intelektual dengan kinerja perusahaan pada 150 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Singapura.

One comment

  1. tanya ,hal2 apa saja yang diungkapkan dalam human capital report??
    fungsi human capital report itu apa??bagi pihak internal atau eksternal perusahaan?terima kasih



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: