h1

Harga pembukaan (opening price), Noise dan Overreaction

August 16, 2009

Harga pembukaan (opening price)

Harga pembukaan (opening price) adalah harga untuk transaksi pertama atas suatu efek yang terjadi saat dimulainya perdagangan (opening) di pasar regular yang terbentuk karena proses JATS (Jakarta Automated Trading System) pada akhir perioda pra pembukaan, sebagai akibat dari order jual dan order beli yang dimasukkan ke JATS oleh anggota bursa selama perioda pra pembukaan. Harga pembukaan dipergunakan sebagai dasar dalam memulai tawar menawar selanjutnya di antara anggotra bursa setelah transaksi pertama tersebut. Dalam hal ini harga pembukaan didasari pada posisi pasar dan akumulasi volume transaksi dari volume beli dan volume jual. Apabila harga pembukaan atas suatu efek tidak terbentuk, tawar menawar dilakukan dengan berpedoman pada harga terakhir yang terjadi pada hari bursa sebelumnya, sedangkan order jual dan/atau order beli atas suatu efek tersebut dilakukan selama perioda pra-pembukaan akan dihapuskan dari JATS.
Adanya informasi yang dirilis pada malam hari (overnight) menghasilkan perubahan harga yang mencerminkan ekspektasi risiko dan perolehan investor akibat reaksi investor (Bery & Howe, 1994). Akibatnya pada pembukaan perdagangan terjadi volatilitas yang tinggi (Amihud & Mendelson, 1987, Madhavan & Panchapagesan, 2002, Guner & Onder, 2002, Stoll & Whalley, 1990), Jain & Joh (1988), Foster & Viswanathan (1993). Beberapa teori kemudian berkembang untuk menjelasakan volatilitas harga yang lebih tinggi pada sesi pembukaan. Salah satu teori adalah trading method explanation (Amihud & Mendelson, 1987). Teori ini menjelaskan adanya perbedaan metoda yang digunakan di pasar New York Stock Exchange (NYSE) telah menyebabkan volatilitas yang lebih tinggi pada sesi pembukaan pasar. NYSE menerapkan call market method pada sesi pembukaan dan price continuous method pada sesi penutupan pasar.
Selain teori perbedaan mekanisma perdagangan ini, muncul teori monopoly power specialist dan non-trading overnight period (Lam & Tong, 1999). Sari (2004) meneliti di BEI dan membuktikan bahwa terdapat volatilitas harga yang lebih tinggi pada saat pembukaan. Oleh karena BEI tidak menerapkan metoda perdagangan yang berbeda pada saat pembukaan dan penutupan pasar, maka hal ini tidak dapat menjelaskan bukti mengenai pengaruh metoda perdagangan (Amihud & Mendelson, 1989). Selain itu, pada BEI tidak terdapat market makers, sehingga monopoli kekuasaan specialist tidak dapat diterima. Dapat dikatakan juga bahwa volatilitas harga yang lebih tinggi pada pembukaan pasar disebabkan adanya informasi yang terhimpun pada perioda nontrading. Informed traders yang mendapatkan informasi selama perioda nontrading overnight, melakukan perdagangan lebih agresif setelah pembukaan pasar apabila informed trader menduga informasi yang didapatkannya segera menjadi informasi publik (Foster & Viswanatahan, 1993).
Chan, Chockalingan & Lai (2000) menyimpulkan beberapa dugaan adanya aktivitas pasar yang lebih tinggi pada saat pembukaan. Pertama, fenomena ini terjadi sebagai akibat dari akumulasi informasi yang berhenti sepanjang malam selama perioda nontrading. Kedua, apabila informed traders menerima informasi privat sepanjang malam dan menduga kemungkinan informasi bocor di keesokan harinya, maka para pedagang segera melakukan perdagangan setelah pembukaan. Ketiga, volume pada pembukaan dan penutupan sesi perdagangan menunjukkan perdagangan yang dilakukan untuk menyeimbangkan kembali portfolio sebelum dan sesudah perdagangan terhenti di malam hari. Keempat, bahwa variansi return open-to-open lebih besar ketimbang variansi return close-to-close untuk saham yang diperdagangkan di NYSE. Hal ini menunjukkan bahwa harga pembukaan mempunyai kesalahan (error) harga yang lebih besar ketimbang harga penutupan.
Steeley (2001) menemukan bahwa return pembukaan mempunyai volatilitas yang lebih tinggi dan berkorelasi serial negatif dengan return penutupan. Hal ini disebabkan adanya noise, sehingga ada perbedaan perilaku return pada return pembukaan dan return penutupan (Huang, Liu & Fu, 2000). Artinya, kesalahan penentuan harga pembukaan dapat dikoreksi pada trading time. Pendekatan noise trading menyatakan bahwa terdapat variabilitas harga yang diakibatkan oleh perdagangan tak terduga yang teruji tidak berkorelasi dengan informasi yang valid. Noise trading berdasar seakan-akan noise merupakan informasi. Semakin banyak noise trading menunjukkan bahwa pasar semakin tidak likuid, dalam arti semakin sering perdagangan yang memungkinkan pengamatan terhadap harga. Tetapi noise trading sebenarnya menempatkan noise ke dalam harga (Harsono, 2003). Harga saham mencerminkan informasi dari pedagang berbasis informasi dan noise dari noise trader. Noise yang ditempatkan noise trader ke dalam harga saham akan kumulatif, sehingga harga saham cenderung bergerak balik ke nilainya di sepanjang waktu. Semakin jauh harga saham bergerak menjauhi nilainya, semakin cepat cenderung balik kembali (Black, 1986).
Sejumlah anomali pasar finansial, termasuk volatilitas berlebihan dan mean reversion dalam harga pasar saham, dapat dijelaskan oleh gagasan noise trader. Perilaku arbitrage profesional merupakan respon terhadap noise trading daripada sebagai perdagangan berbasis fundamental. Kebanyakan arbitrage profesional menghabiskan sumberdaya untuk memeriksa dan memprediksi sinyal palsu yang diikuti noise trader (Black, 1986; Wermers, 1998; Harsono, 2003). Noise trader membentuk taksiran yang salah terutama mengenai variansi distribusi perolehan aktiva tertentu. Untuk mispersepsi semacam itu, noise trader sebagai kelompok yang tidak hanya menghasilkan perolehan return lebih tinggi ketimbang yang dihasilkan investor rasional. Kenyataannya, pedagang noise tetap mampu survive dan mendominasi pasar dalam hal kekayaan jangka panjang, sekalipun mengambil risiko berlebihan.
Strategi perdagangan berbasis noise dapat berpotensi menimbulkan destabilisasi dan mendorong harga menjauh dari nilai fundamental apabila para pedagang membentuk herd. Sekalipun demikian, harga tetap akan stabil apabila perdagangan berbasis fundamental cukup kuat dan mampu mencegah harga bergerak menjauhi fundamental, serta mampu merespon informasi fundamental. Studi tentang herd oleh reksadana menunjukkan bahwa secara keseluruhan setiap penyesuaian harga saham yang teramati setelah perdagangan oleh herds nampak bersifat permanen. Demikian juga, studi tersebut mendukung gagasan bahwa herd oleh reksadana mempercepat proses penyesuaian harga dan tidak mendestabilisasi (Wermers, 1998). Apabila ada noise, maka pergerakan harga saham yang naik pada perioda perdagangan diikuti dengan pembalikan harga pada perioda-perioda selanjutnya, demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu, adanya noise terindikasikan dengan adanya autokorelasi negatif antara harga pembukaan dengan perioda-perioda setelahnya (Huang, Liu & Fu, 2000).

Noise dan Overreaction

Selain noise, overreaction juga mempengaruhi harga pembukaan (Steeley, 2001). Anomali overreaction atau winner-losser diperkenalkan pertama kali oleh DeBondt & Thaler (1985), dengan menemukan adanya pembalikan return saham terhadap saham-saham yang merupakan saham losser akan menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan saham-saham yang sebelumnya merupakan saham winner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan membeli saham losser dan melakukan short selling terhadap saham winner terbukti memperoleh return abnormal sebesar 15%. Fenomena pembalikan return ini disebabkan oleh pasar yang overreaction terhadap informasi dan kemudian melakukan koreksi sendiri pada perioda berikutnya.
Ketika terjadi keseimbangan pasar, suatu sekuritas diharapkan memberikan return yang setara dengan risiko sistematis. Investor berusaha menghindari risiko pada awalnya dan mendorong harga saham sampai tingkat di bawah level yang dijamin oleh peristiwa tersebut. Sebaliknya, harga saham kembali bergerak karena adanya ketidakpastian informasi yang pada akhirnya terpecahkan setelah peristiwa terjadi. Perubahan ekstrim pada suatu harga saham diikuti oleh pembalikan dengan arah yang berlawanan. Hal ini berarti investor bereaksi berlebihan terhadap informasi saham tersebut sehingga harga saham cenderung ditetapkan keliru. Selanjutnya pasar mengkoreksi melalui pembalikan harga sampai tingkat keseimbangan baru tercapai (DeBondt & Thaler, 1985, 1987)
Hipotesis reaksi berlebihan atau overreaction hypothesis mengacu pada hasil penelitian aplikasi psikologi yang menyatakan bahwa manusia cenderung berlebihan (overreact) terhadap berita atau event yang bersifat dramatis (Claire & Thomas, 1995). Pasar melakukan penyesuaian harga secara lambat terhadap pricing error. DeBondt & Thaler (1987) membagi portofolio dalam kelompok portofolio yang konsisten mendapatkan laba perdagangan (bagi winner) dan portofolio yang tidak mendapatkan laba perdagangan (bagi losser). Koreksi terhadap informasi tersebut terjadi pada perioda berikutnya, dan dilakukan dalam jangka pendek ketika koreksi yang dilakukan secara berlebihan dan signifikan serta berulang. Hal inilah yang disebut dengan overreaction.
Nam, Pyun & Avard (2001) menyebutkan bahwa overreact tidak terjadi dalam rentang waktu yang lama, tetapi kejadiannya lebih bersifat separatis atau terpisah-pisah dalam pergerakan waktu dalam perioda yang singkat. Hasil peneltian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan Chen (1988) yang menyimpulkan bahwa overeact tidak bersifat konstan sepanjang waktu.

4 comments

  1. untuk artikel ini dimana dapat yang lenkapnya….???


    • cari ja disitus…


  2. bu istilah seperti noise, destabiliasi, herd artinya apa..?? dan penelitian ini menggunakan metode sampling apa..?


    • g tau..sory ya…



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: