h1

Readability dan Understandability, Reifikasi dan Pygmalion Syndrome

August 15, 2009

Readability dan Understandability

Efek komunikatif merupakan sasaran penyampaian informasi dari penyedia informasi kepada pengguna informasi, sehingga ungkapan bahasa harus tepat sehingga maknanya dapat ditafsir-kan sama persis dengan makna yang dimaksudkan. Oleh karena itu, teori akuntansi perlu dikembangkan dengan mempertimbangkan aspek semantik (makna bahasa) ini. Aspek semantik penting untuk dipertimbangkan karena informasi keuangan secara ideal harus memiliki kandungan infor-masi atau mengacu pada ”realitas” yang disepakati oleh penyedia maupun pemakai informasi.
Sehubungan dengan hal tersebut, Li (1972, 105) menyatakan bahwa sebagai sebuah sis-tem bahasa, kandungan fakta (factual content) dari informasi akuntansi merupakan hal yang harus diutamakan, dan untuk itu, akuntansi harus membatasi kegiatannya pada deskripsi peris-tiwa bisnis yang dapat diuji kebenarannya, yang disebut sebagai referents – yaitu peristiwa bisnis yang keberadaan dan besaran nilai keuangan yang menyertainya harus jelas batasannya. Hal ini konsisten dengan harapan Lee (1982, 155) bahwa jangan sampai simbolisasi peristiwa dan objek yang semula dimaksudkan untuk menyederhanakan dan memudahkan proses ko-munikasi, justru menimbulkan kesulitan dalam mengkomunikasikan informasi akuntansi tersebut (lihat juga Preston et al. 1996, 121).
Problema semantik dalam pengkomunikasian informasi akuntansi seperti dikhawatirkan oleh Li (1972) dan Lee (2982) tersebut sebenarnya telah dibuktikan oleh Haried (1972). Menurut Haried, problema semantik terjadi karena dua faktor, yaitu: (1) kata-kata (words) yang menjadi simbol bahasa teknis akuntansi ternyata memiliki makna berbeda dalam bahasa sehari-hari atau memiliki makna yang berbeda dalam bidang lain di luar akuntansi; dan (2) standarisasi istilah (terms) yang digunakan dalam laporan keuangan kurang memadai untuk merepresentasikan realitas.
Smith dan Taffler (1992) serta Courtis (1998) mendukung temuan Haried (1972). Mereka menemukan fakta bahwa akuntansi sebagai bahasa bisnis masih mengandung setidaknya dua problema utama, baik yang bersumber dari teks akuntansi itu sendiri maupun yang bersumber dari pembaca teks akuntansi. Dengan ungkapan lain, Jones (1996, 86) menyebut dua pro-blema tersebut tersebut sebagai kemudahan untuk dibaca (readability) dan kemampuan untuk memahami (understandability) .
Jones (1996, 86) menjelaskan, bahwa readability merupakan problema komunikasi infor-masi akuntansi yang bersumber dari teks akuntansi itu sendiri, terutama karena adanya kom-pleksitas simbol (kata maupun angka) yang digunakan selama proses akuntansi hingga peng-komunikasian laporan keuangan. Sebaliknya, understandability terfokus pada pembaca teks akuntansi, yang berarti bahwa kemampuan untuk memahami bahasa akuntansi tergantung pada karakteristik pembaca, baik dalam hal latar belakang, pengetahuan yang dimiliki, tujuan membaca, kepentingan, serta kemampuan melakukan pembacaan secara umum.

Reifikasi dan Pygmalion Syndrome

Dalam praktik akuntansi, konsep laba komprehensif dijalankan berdasarkan asumsi akrual. Implikasi dari asumsi dasar akrual ini adalah, bahwa suatu transaksi atau peristiwa dibukukan pengaruhnya terhadap aktiva, kewajiban, ekuitas, pendapatan atau beban pada saat transaksi atau peristiwa itu terjadi tanpa mempertimbangkan apakah kas atau setara kas telah diterima atau dibayarkan. Dengan berbasis akrual, catatan akuntansi tidak hanya merekam fakta terja-dinya arus kas sekarang, tetapi juga merekam potensi terjadinya arus kas di masa depan, serta konsekuensi dari arus kas di masa lalu. Fakta, potensi, dan konsekuensi tersebut seluruhnya dicatat sekarang, sehingga angka-angka yang tercantum dalam laporan keuangan sebagai produk akuntansi – kecuali laporan aliran kas – seringkali menjadi sulit untuk dimengerti (Chambers 1989, 7).
Pencatatan fakta, potensi dan konsekuensi dalam akuntansi akrual tersebut, yang secara keseluruhan diartikan sebagai realitas ekonomik, dijustifikasi terutama oleh prinsip ”substansi mengungguli bentuk”. Substansi ekonomi lebih diunggulkan daripada bentuk hukum, karena substansi ekonomi dianggap dapat menggambarkan realitas ekonomik suatu transaksi, dan dengan demikian, informasi akuntansi dianggap meyajikan secara jujur transaksi atau pe-ristiwa lain yang seharusnya disajikan.
Dampak dari spirit akuntansi akrual untuk merepresentasikan realitas ekonomik perusa-haan secara jujur serta menyajikan apa yang seharusnya disajikan dalam laporan keuangan tersebut adalah timbulnya pygmalion syndrome (Heath 1987, 1) . Dalam konteks akuntansi, istilah pygmalion syndrome sebenarnya bukan istilah baru, karena istilah ini merupakan idiom dari istilah ”reifikasi” (Heath 1987, 1). Ansari dan Euske (1987) menggunakan istilah reifi-kasi (reification) untuk merujuk pada makna yang sama dengan makna pygmalion syndrome. Sebagai contoh reifikasi dalam akuntansi adalah cara berfikir tentang laba (earnings). Dalam konteks akuntansi berbasis akrual, akuntan seringkali mereifikasi laba. Misalnya, baik secara lisan maupun melalui tulisan, akuntan membuat pernyataan-pernyataan berikut: mendistribu-sikan laba, menahan laba, menginvestasikan kembali (reinvestment) laba, membiayai pembe-lian peralatan pabrik dengan bagian laba, dan lain-lain. Implisit dalam pernyataan tersebut adalah bahwa akuntan membayangkan seolah-olah ”laba” merupakan suatu benda (things) yang secara fisis dapat dibagi-bagikan, didistribusikan, disimpan, atau dibelanjakan. Dalam akuntansi akrual, laba atau rugi hanyalah sebuah model konseptual, dan tidak dapat diobservasi atau diukur secara langsung.
Reifikasi atau pygmalion syndrome atas laba dapat menimbulkan problema dalam komu-nikasi informasi akuntansi. Problema ini mungkin tidak akan terjadi jika komunikasi dila-kukan oleh mereka yang memahami rerangka konseptual akuntansi. Misalnya, ketika A ber-kata kepada B, ”Tahun lalu, PT X mendistribusikan 40 persen labanya”, tidak berarti bahwa komunikasi ini bermasalah atau tidak efektif. Meskipun laba telah direifikasi oleh A, tetapi B faham bahwa laba yang tampak sebagai bottom-line dalam laporan laba-rugi tidak merepre-sentasikan suatu benda (kas) yang dapat didistribusikan. B menyadari bahwa A hanyalah berbicara secara metaforis, yang bermaksud menyingkat ucapannya untuk mengatakan bahwa PT X membagikan dividen tunai yang jumlahnya setara dengan 40 persen dari laba yang dilaporkan.
Jika akuntan mereifikasi laba pada saat berkomunikasi dengan pihak-pihak yang tidak memahami rerangka konseptual akuntansi, problema komunikasi akan terjadi. Tetapi, problema komunikasi yang ditimbulkan oleh reifikasi atau pygmalion syndrome atas laba ternyata tidak hanya terjadi dalam berkomunikasi dengan non-akuntan, tetapi juga terjadi pada diri akuntan sendiri (Heath 1987, 3). Meskipun akuntan merepresentasikan peristiwa dalam dunia nyata melalui model akuntansi, tetapi mereka sendiri sering mengacaukan model akuntansi tersebut dengan peristiwa yang ingin mereka representasikan. Heath (1987, 4) memberikan ilustrasi melalui sebuah cerita yang disebutnya sebagai old story tentang sebuah perusahaan yang membeli mesin tulis (typewriter) berikut ini:
Ketika mesin tulis yang lama telah didepresiasi penuh, perusahaan ingin membeli lagi sebuah mesin tulis yang sama. Karena tipe mesin tulis yang lama tidak tersedia lagi di pasaran, maka terpaksa dibeli sebuah mesin tulis bekas pakai dengan tipe dan kondisi yang persis sama dengan mesin tulis lama. Ketika ruangan kantor ditata kembali untuk mengakomodasi keberadaan mesin tulis ”baru” ini, ternyata ruangan kantor terkesan makin sempit dan suasana dalam ruangan menjadi kurang sedap dipandang. Oleh karena itu, sebuah dari mesin tulis yang memiliki tipe dan kondisi sama tersebut dibuang (dibesituakan dan dimasukkan gudang) oleh pegawai kantor. Akuntan terkejut ketika menge-tahui sebuah mesin tulis dibuang, kemudian ia bertanya, ”Mesin tulis mana yang kau buang?”. Setelah memperoleh jawaban bahwa mesin tulis lama yang dibuang, akuntan berkata, ”Syukurlah kalau begitu, berarti saya tidak harus melaporkan kerugian bagi perusahaan”.
Dalam konteks old story di atas, akuntan telah gagal untuk menggunakan model atau konsepnya dalam merepresentasikan peristiwa yang sesungguhnya terjadi. Peristiwa yang gagal direpresentasikan adalah ”kerugian” akibat membuang mesin tulis lama yang sebe-narnya masih memberikan manfaat bagi perusahaan. Dengan gejala pygmalion syndrome-nya, akuntan telah mereifikasi kerugian sebagai kehilangan uang, bukannya kehilangan aset perusahaan berupa mesin tulis yang masih bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: