h1

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Koefisien Respon Laba Akuntansi

August 15, 2009

Risiko perusahaan

Kothari dan Zimmerman (1995) menyatakan bahwa earnings response coefficent (ERC) adalah fungsi terbalik dari risiko sistematis dan dalam berbagai model, terdapat hubungan empiris antara risiko dan variabel laba. Saham perusahaan yang rendah resikonya akan mempunyai ERC yang tinggi, demikian juga sebaliknya. Jika faktor risiko ini tidak dipertimbangkan dalam model, maka akan terjadi bias karena terdapat variabel yang berhubungan namun diabaikan. Collins dan Kothari (1989) serta Easton dan Zmijewski (1989) memprediksi variasi cross-sectional ERC berhubungan negatif dengan risiko sistematis perusahaan.
Sedangkan Barth et al (1998) menggunakan volatilitas imbal hasil saham sebagai proksi risiko perusahaan. Volatilitas imbal hasil diukur dengan standar deviasi imbal hasil saham enam bulan sebelumnya. Temuan Barth et al (1998) menunjukkan bahwa koefisien inkremental nilai buku ekuitas (laba) adalah positif (negatif) untuk perusahaan-perusahaan yang volatilitasnya tinggi. Koefisien inkremental laba adalah negatif untuk perusahaan yang tinggi volatilitasnya. Hal ini konsisten dengan volatilitas imbal hasil sekuritas sebagai proksi risiko. Namun untuk koefisien nilai buku ekuitas, belum ditemukan alasannya.

Struktur Modal

Dhaliwal et al (1991), Dhaliwal dan Reynold (1994) serta Billings (1999) menunjukkan bahwa informativeness of earnings menurun sesuai dengan default risk. Dhaliwal dan Reynald (1994) menggunakan dua proksi untuk default risk yaitu bond ratings dan debt-to-market equity (debt/equity) ratio. Kedua proksi tersebut mencerminkan risiko-risiko yang relevan yang tidak bisa dicerminkan oleh equity beta. Debt/equity ratio ini mencerminkan struktur modal yang dimiliki perusahaan. Debt/equity ratio yang tinggi berarti perusahaan lebih banyak menggunakan hutang sebagai modal. Untuk perusahaan-perusahaan yang memiliki lebih banyak hutang, setiap peningkatan laba (sebelum bunga) akan dirasakan oleh pemberi pinjaman sebagai suatu keamanan. Jadi peningkatan laba akan lebih banyak direspon oleh debtholder, bukan oleh shareholder. Oleh karena itu, ERC perusahaan yang tinggi hutangnya akan lebih rendah (Dhaliwal et al 1991) dibandingkan dengan perusahaan yang rendah hutangnya.
Core dan Schrand (1999) juga membuktikan bahwa reaksi harga saham terhadap laba yang tak terduga akan meningkat pada saat perusahaan hampir menghadapi pelanggaran perjanjian hutang. Temuan mereka adalah ERC merupakan fungsi meningkat dari modal, kebalikan dari tingkat hutang. Jadi terdapat hubungan negatif antara tingkat hutang dan ERC.

Relevansi Nilai pada Pasar yang Tidak Efisien
Pengujian relevansi nilai yang tidak mempertimbangkan efisiensi pasar modal akan menimbulkan bias pada koefisien yang dihasilkan oleh metode konvensional yang menghubungkan variabel informasi akuntansi dengan nilai pasar ekuitas. Hal ini disebabkan karena terdapat respon pasar yang tertunda yang diakibatkan oleh ketidakefisienan pasar dalam merespon informasi yang dipublikasikan (semi strong form efficieny). Oleh karena itu, diperlukan prosedur yang menyesuaikan keterlambatan reaksi pasar tersebut. Dengan menerapkan prosedur yang dibuat oleh Aboody et al (2002), yaitu menyesuaikan imbal hasil saham kontemporer terhadap perubahan harga yang disesuaikan dengan risiko di masa yang akan datang, prosedur ini akan menghasilkan estimasi koefisien relevansi nilai yang bisa menangkap reaksi pasar saat ini maupun yang tertunda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: