h1

EARNING RESPONSE COEFFICIENT (ERC)

August 17, 2009

Pengungkapan Sukarela (voluntary disclosures)

Di Indonesia peraturan yang mengatur tentang pengungkapan adalah keputusan Bapepam No. Kep-38/PM/1996. Informasi yang diungkapkan dalam laporan tahunan perusahaan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu pengungkapan wajib (mandatory disclosures) dan pengungkapan sukarela (voluntary disclosures).
Pengertian Pengungkapan Sukarela menurut Meek dkk. (1995) adalah sebagai berikut : Pengungkapan sukarela merupakan pilihan bebas manajeman perusahaan untuk memberikan informasi akuntansi dan informasi lain yang relevan untuk pembuatan keputusan para pemakai laporan tahunan. Karena perusahaan memiliki keleluasan dalam melakukan pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan sehingga menimbulkan adanya keragaman atau variasi luas pengungkapan sukarela antar perusahaan.

Ketepatan Waktu (Timeliness) Laporan Keuangan

Timeliness merupakan salah satu tujuan kualitatif laporan keuangan selain relevance, understandability, verifiability, neutrality, comparability dan completeness ( APB Statements No.4).
Bapepam bersama Bursa Efek Jakarta (BEJ) menetapkan keputusan No.80/PM/1996 tentang kewajiban penyampaian laporan keuangan berkala (akhir tahun dan tengah tahunan) yang disusun berdasarkan Standar Akuntansi dari Ikatan Akuntansi Indonesia yaitu bahwa perusahaan publik wajib menyampaikan laporan keuangan tahunan disertai pendapat akuntan yang telah diaudit selambat-lambatnya 120 hari sejak tanggal berakhirnya tahun buku dan wajib diumumkan ke publik paling tidak melalui dua surat kabar harian berbahasa Indonesia.

Pengertian Earnings Response Coefficient (ERC)

Umumnya dalam mengetahui kualitas laba yang baik dapat diukur dengan menggunakan Earnings Response Coefficient, yang merupakan bentuk pengukuran kandungan informasi dalam laba.
Pengertian Koefisien Respon Laba (Earnings Response Coefficient) menurut Cho dan Jung (1991) adalah sebagai berikut :
Koefisien Respon Laba didefinisikan sebagai efek setiap dolar unexpected earnings terhadap return saham, dan biasanya diukur dengan slopa koefisien dalam regresi abnormal returns saham dan unexpected earning.

Cho dan Jung ( 1991) mengklasifikasi pendekatan teoritis ERC menjadi dua kelompok yaitu (1) model penilaian yang didasarkan pada informasi ekonomi (information economics based valuation model) seperti dikembangkan oleh Holthausen dan Verrechia (1988) dan Lev (1989) yang menunjukkan bahwa kekuatan respon investor terhadap sinyal informasi laba (ERC) merupakan fungsi dari ketidakpastian di masa mendatang. Semakin besar noise dalam system pelaporan perusahaan (semakin rendah kualitas laba), semakin kecil ERC dan (2) model penilaian yang didasarkan pada time series laba (time series based valuation model) seperti dikembangkan oleh Beaver, Lambert dan Morse (1980).

Variabel Kontrol

a. Hubungan Reputasi auditor terhadap Pengungkapan Sukarela Pelaporan Keuangan
Audit dilakukan sebagai wujud dari adanya hubungan kontrak antara pihak pemberi dan penerima dalam konsep agensi (Mesier, 2003). Variabel ini digunakan untuk melihat interaksi antara reputasi auditor the big four (Ernst&Young, Price Waterhouse and Coopers, KPMG, Deloitte) dan non-the big four dalam mempengaruhi pengungkapan laporan tahunan. Variabel ini menggunakan dummy, perusahaan yang diaudit oleh kantor akuntan publik the big four dicatat dengan 1 sedangkan yang tidak dicatat 0.
Berdasarkan penelitian Teoh dan Wong (1993) ditunjukkan pasar merespon secara berbeda terhadap kualitas auditor, yang diproksikan dengan auditor big 5 dan non big 5. Artinya semakin berkualitas auditor maka semakin tinggi kredibilitas angka akuntansi yang dilaporkan, dengan demikian semakin besar ERC.

b. Hubungan opini audit dengan Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan
Publikasi laporan keuangan melalui media massa akan mempengaruhi keputusan berinvestasi para csalon investor. Hal ini disebabkan informasi yang terkandung di dalam laporan keuangan dianggap berita terbaru memgenai keadaan perusahaan di pasar modal.
Opini audit dapat memotivasi manajemen perusahaan untuk menyampaikan laporan keuanghan secara tepat. Hipotesis ini memberikan makna bahwa manajemen memandang penting opini audit sehingga sesegera mungkin disampaikan kepada pemakai informasi tersebut. Opini yang baik mengindikasikan bahwa perusahaan mempunyai berita baik (good news).

c. Hubungan Persistensi Laba dengan ERC
Definisi persistensi laba menurut Scott (2003) adalah revisi laba yang diharapkan di masa mendatang (expected future earnings) yang diimplikasikan oleh inovasi laba tahun berjalan sehingga persistensi laba dilihat dari inovasi laba tahun berjalan yang dihubungkan dengan perubahan harga saham. Semakin tinggi persistensi laba maka semakin tinggi ERC, hal ini berkaitan dengan kekuatan laba. Persistensi laba mencerminkan kualitas laba perusahaan dan menunjukkan bahwa perusahaan dapat mempertahankan laba dari waktu ke waktu. Kormendi dan Lipe (1987) menunjukkan bahwa persistensi laba berhubungan positif dengan ERC. Collins dan Kothari (1989) juga menemukan hubungan yang positif antara estimasi ERC dan persistensi dengan menggunakan perubahan laba sebagai proksi untuk unexpected earnings. Berbeda dengan Ali dan Zarowin (1992) yang menemukan bahwa estimasi error pada ERC secara negatif berhubungan dengan persistensi. Hal ini disebabkan beberapa analisa sebelumnya terhadap hubungan antara ERC dan persistensi adalah berlebihan.

d. Hubungan Pertumbuham Laba terhadap ERC
Penelitian tentang pertumbuhan laba dan koefisien respon laba telah dikemukakan oleh Collins dan Kothari (1989). Pertumbuhan laba diukur dengan rasio nilai pasar terhadap nilai buku ekuitas. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan laba mempunyai hubungan yang positif dengan koefisien respon laba.
Collins dan Kothari (1989) menyatakan bahwa kesempatan tumbuh berdampak pada laba masa depan dan begitu juga dengan ERC. Dengan kata lain, semakin tinggi kesempatan suatu perusahaan untuk tumbuh maka akan semakin tinggi ERC. Hal ini menunjukkan bahwa variabel pertumbuhan mempunyai hubungan yang positif dengan ERC.

About these ads

3 comments

  1. mau nanya donk, untuk perhitungan ERC kita harus regresikan dahulu antara laba dan return untuk tiap perusahaan ya, selama tahun penelitian dan kemudian diaolah di dlm spss?? jadi keluarnya untuk tiap prusahaan selama tahun penelitian hanya 1 nilai ya??? apakah langkah tersebut benar?? mohon balasannya. Trima kasih

    Okta


  2. koq gag ada pengaruhnya ap terhadap ap???
    misal timeliness berpengaruh postif signifikan terhadap ERC…


  3. saya mau tanya…skripsi sy mengenai pengaruh rasio kinirja keuangan terhadap kualitas ustu laba…yg mau sya tanya ukurannya kualitas laba…???
    jurnal diatas itu mengenai ukuran atau koefisien laba??



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: